Ketika Resiko Musisi Independen Menjadi Bahan Bakar Karya Memikat
Dunia musik independen selalu punya cara unik untuk menguji ketahanan mental para pelakunya. Bagi kuartet asal Tangerang, Paraleyes, ujian itu tidak datang dalam bentuk keraguan artistik, melainkan sebuah musibah teknis yang sanggup membuat musisi mana pun mengelus dada. Namun, alih-alih tenggelam dalam rasa frustrasi setelah berkas rekaman mereka hilang total dan uang kas terkuras habis, unit ini justru berhasil memoles rasa lelah tersebut menjadi sebuah amunisi sonic yang emosional lewat single terbaru mereka bertajuk “Spheres”.
Dirilis secara resmi pada pertengahan Oktober 2026, “Spheres” bukan sekadar rilisan rutin. Lagu ini adalah monumen ketabahan dari grup yang digawangi oleh Rayno (vokal), Veyron (gitar ritme), Adam (gitar utama), dan Razi (drum). Keputusan mereka untuk merangkak kembali dari titik nol setelah sempat menyerah dua kali justru melahirkan aransemen yang jauh lebih matang, mentah, dan berkarakter.
Dua Kali Menyerah dan Pertolongan Komunitas Skena
Kisah di balik dapur rekaman “Spheres” memang menyerupai panggung drama. Semuanya bermula saat Paraleyes menemukan bentuk aransemen ideal lewat sesi jam session spontan di studio. Namun, euforia itu mendadak sirnah ketika hasil produksi awal tidak sesuai ekspektasi, ditambah lagi musibah hilangnya berkas rekaman master. Seluruh modal kas band hangus tanpa sisa, meninggalkan ketidakpastian yang memaksa mereka bergonta-ganti mixing engineer demi mengejar warna suara yang pas.
“Kami sempat taruhin semua uang kas band untuk biaya rekaman awal, namun hasilnya jauh dari harapan. File rekaman kami bahkan sempat hilang hingga harus diulang dari nol. Kami sempat menyerah dua kali,” ungkap Rayno mengekspresikan fase kritis tersebut. Beruntung, solidaritas skena menjadi penyelamat. Sebuah studio milik kolega dekat mengulurkan tangan, mengizinkan mereka merekam ulang seluruh materi dengan sistem pembayaran cicilan. Dari kompromi finansial dan empati antar-musisi inilah, nyawa baru “Spheres” akhirnya terlahir kembali.
Lingkaran Toksik dalam Balutan Shoegaze yang Dinamis
Dari sudut pandang musikalitas, Paraleyes memanfaatkan pendekatan shoegaze yang tidak sekadar bersembunyi di balik dinding distorsi tebal, melainkan lebih eksploratif dan ekspresif. Dinamika gitar antara Veyron dan Adam saling berkelindan mengisi ruang-ruang kosong, disokong oleh fondasi ritmik Razi yang kokoh serta karakter vokal Rayno yang mengawang namun tetap mengiris.
Eksplorasi sound ini berpadu presisi dengan narasi lirik yang dibawakan. Metafora “Spheres” mengeksplorasi dinamika hubungan antarmanusia yang terjebak dalam siklus berulang, membingungkan, dan melelahkan—layaknya seseorang yang terperangkap dalam bola berputar tanpa jalan keluar. Uniknya, Paraleyes tidak membatasi konsep ini pada relasi asmara semata, melainkan juga korelasinya pada ranah pertemanan hingga interaksi sosial yang lebih luas. Sebuah sajian audio-visual intuitif yang membuktikan bahwa proyek idealis yang ditempa musibah sering kali justru menghasilkan karya paling jujur.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.










Discussion about this post