Ketika dawai cello tak lagi sekadar menjadi instrumen pelengkap harmoni orkestra klasik, di tangan Alfian Emir Adytia—yang akrab disapa Emir Cello—alat musik gesek ini bertransformasi menjadi medium perlawanan yang bertenaga. Sang musisi asal Indonesia ini dipastikan bakal kembali menghentak panggung bergengsi Cello Biënnale Amsterdam pada 1 November 2026 mendatang. Bertempat di panggung ikonik BIMHUIS, Amsterdam, Belanda, Emir siap menyuguhkan pertunjukan eksperimental yang meleburkan sekat-sekat genre musik secara radikal.
Resonansi Dekolonial di Stage Global
Dalam penampilan keduanya di perhelatan internasional yang berlangsung pada 29 Oktober hingga 7 November 2026 tersebut, Emir tidak tampil sendirian. Ia memboyong format trio bersama Kaan Yazici pada bas dan Sander van Elferen pada drum. Eksplorasi sonik ini berpusat pada album teranyarnya yang dirilis pada 2025, bertajuk Decolmuseum. Karya ini bukan cuma pamer skill musikalitas, melainkan sebuah manifestasi sejarah yang dibalut distorsi dan ritme kompleks.
Melalui Decolmuseum, Emir merajut kembali memori kolektif tentang perjuangan leluhurnya dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Komposisi di dalamnya merupakan persilangan berani antara keindahan musik tradisional Nusantara, artikulasi ritem progressive rock, hingga agresi ala heavy metal. Formula ini mendobrak batasan konvensional cello yang selama ini identik dengan estetika musik Barat yang elitis.
Visual Arsip dan Distorsi Sebagai Medium Narasi Ulang
Pertunjukan Emir di panggung BIMHUIS dipastikan bakal menyajikan pengalaman audio-visual yang imersif. Aksi panggungnya akan disandingkan dengan pemutaran film arsip era pra-kemerdekaan Indonesia yang dinarasikan ulang secara personal oleh Emir. Langkah ini diambil untuk merebut kembali narasi sejarah yang selama ini kerap terdistorsi oleh kacamata kolonial.
“Saya ingin publik Eropa menyaksikan sejarah kami dari sudut pandang kami sendiri, lewat cello rock/metal, elemen musik rakyat Indonesia dan arsip film kolonial,” tegas Emir. Narasi visual yang dikombinasikan dengan raungan cello berdistorsi tersebut difungsikan sebagai kesaksian otentik atas ketahanan, perjuangan, dan perlawanan rakyat Indonesia dalam melintasi zaman.
Konsistensi Jejak Eksperimentasi Musikal
Kiprah Emir di festival selamatan instrumen cello tingkat dunia ini sejatinya bukanlah cerita baru. Musisi yang rajin membagikan catatan karyanya via Instagram @emir.cello ini sebelumnya sempat mencuri perhatian pada helatan Cello Biënnale Amsterdam edisi 2022 lalu saat tampil bersama grup eksperimental Treswara.
Kehadiran kembalinya Emir dengan karya solonya yang makin matang menegaskan posisinya sebagai salah satu inovator musik kontemporer yang relevan. Lewat gesekan dawai cellonya, sejarah tak hanya dikenang dalam buku-buku kusam, melainkan dirayakan kembali dengan membara di panggung dunia.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post