Konsumsi Pertalite Melonjak 11 Persen, Pemkot Malang Tegaskan Stok BBM Aman
KOTA MALANG – Antrean panjang kendaraan yang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Malang, salah satunya di SPBU Mergan, dipastikan bukan disebabkan oleh kelangkaan BBM. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menegaskan bahwa fenomena tersebut murni dipicu oleh pergeseran pola konsumsi masyarakat yang beralih ke BBM jenis Pertalite akibat perbedaan selisih harga dengan Pertamax.
Kepastian ini disampaikan langsung oleh Penjabat (Pj) Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, usai memimpin inspeksi mendadak (sidak) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang di SPBU Mergan dan Pasar Mergan. Dari hasil evaluasi lapangan, ditemukan lonjakan konsumsi Pertalite yang signifikan hingga 11 persen dalam dua pekan terakhir, sementara konsumsi Pertamax justru merosot tajam hingga sekitar 50 persen.
“Kelangkaan BBM itu tidak ada dan ketersediaan stok terjamin aman. Antrean yang terjadi di lapangan pure karena masyarakat menyesuaikan pilihan berdasarkan perbedaan harga,” ujar Wahyu Hidayat saat memberikan keterangan di sela-sela pantauan lapangan.
Wahyu meminta masyarakat Bumi Arema tidak perlu panik apalagi terpengaruh oleh isu-isu kelangkaan BBM yang tidak benar. Berdasarkan pengecekan teknis, pasokan pasokan BBM dari Pertamina ke seluruh SPBU di Kota Malang hingga saat ini dipastikan berjalan lancar dan terdistribusi secara normal.
Fluktuasi Bahan Pokok: Tepung Terigu Melonjak, Stok Beras Aman
Selain meninjau distribusi energi, sidak TPID yang menyasar Pasar Mergan juga memetakan pergerakan harga komoditas pangan pokok. Pemkot Malang menemukan lonjakan harga yang cukup mencolok pada komoditas tepung terigu. Harga tepung terigu yang semula berada di kisaran Rp 7.000 per kilogram kini melesat hingga menembus angka Rp 13.000 per kilogram.
“Untuk bahan pokok, harga tepung terigu yang mengalami kenaikan hampir dua kali lipat. Dari rata-rata Rp 7.000, saat ini merangkak naik sampai Rp 13.000 per kilogram,” ungkap Wahyu.
Sementara itu, untuk komoditas beras, Pemkot Malang memastikan pasokan di tingkat pedagang dalam kondisi sangat mencukupi, meski harganya di pasaran masih bertahan relatif tinggi. Di sisi lain, harga kebutuhan dasar lainnya seperti minyak goreng dan bawang merah terpantau masih stabil dan terkendali.
Faktor Musiman Picu Dinamika Harga Cabai di Pasar Tradisional
Dinamika harga juga terjadi pada komoditas cabai. Di Pasar Mergan, harga cabai dipatok pada kisaran Rp 55.000 hingga Rp 65.000 per kilogram, dengan harga rata-rata pedagang mencapai Rp 60.000 per kilogram. Wahyu menjelaskan, kenaikan harga cabai ini lebih dipengaruhi oleh tingginya permintaan pasar (demand) seiring banyaknya hajatan masyarakat, seperti pesta pernikahan.
Meski harga merangkak naik, pasokan cabai di Kota Malang dipastikan tidak mengalami kendala karena rantai pasokan dari pasar induk, khususnya Pasar Induk Gadang, masih mengalir lancar. Pemerintah meyakini harga cabai akan kembali melandai seiring dengan menyeimbangnya tingkat permintaan konsumen.
“Pasokan cabai selalu berlimpah. Kenaikan harga ini pure dinamika pasar karena permintaan yang sedang tinggi. TPID Kota Malang akan terus melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan harga dan ketersediaan stok bahan pokok maupun BBM demi mengamankan stabilitas pasokan serta menekan laju inflasi daerah,” pungkasnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post