Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa perubahan mendasar pada lanskap industri komunikasi global. Meski AI mampu memproduksi iklan dalam hitungan detik hingga menyusun siaran pers secara instan, teknologi ini dinilai tidak akan pernah bisa membeli atau mengembalikan kepercayaan publik yang rusak akibat kesalahan organisasi.
Pesan krusial tersebut ditegaskan oleh akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia (UI), Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, saat berbicara pada ajang berskala internasional, Global Digital Forum II 2026 di Moskow, Rusia. Forum yang dihadiri lebih dari 1.000 pakar teknologi informasi, 50 pejabat setingkat menteri, serta perwakilan dari 50 perusahaan teknologi dunia ini menjadi panggung penting bagi Indonesia untuk menyuarakan tantangan profesi komunikasi di era digital.
Transformasi Peran: Dari Pembuat Konten Menjadi Penjaga Kepercayaan
Menurut Devie Rahmawati, industri Public Relations (PR) saat ini sedang mengalami pergeseran paradigma yang sangat fundamental. Persaingan tidak lagi berfokus pada seberapa cepat atau seberapa banyak informasi yang diproduksi, melainkan pada tanggung jawab moral untuk membuktikan kebenaran di balik informasi tersebut.
Devie mengingatkan agar para praktisi humas dan organisasi tidak terjebak pada angka popularitas semata. Pencapaian seperti jutaan tayangan positif di media sosial tidak ada artinya jika sebuah perusahaan membiarkan ribuan keluhan pelanggan menumpuk tanpa penyelesaian konkrit di lapangan.
“AI dapat membuat organisasi semakin sering dibicarakan. Namun, hanya keputusan dan tindakan yang benar yang membuat organisasi layak dipercaya. PR masa depan bukan yang paling pandai membuat organisasi dipuji, melainkan yang paling mampu membuat organisasi pantas dipuji,” tegas pakar komunikasi yang juga penerima penghargaan Australia Award tersebut.
Lima Ancaman Utama AI dalam Industri Komunikasi
Berdasarkan kajian risiko praktik industri yang disadur dari Folks Strategic, terdapat lima ancaman utama penerapan AI yang wajib diantisipasi oleh para pelaku industri komunikasi dan praktisi PR:
- Kebocoran Data Klien: Risiko terpaparnya informasi rahasia atau dokumen internal akibat penginputan data ke dalam sistem AI yang tidak aman.
- Penyalahgunaan Identitas: Penggunaan wajah, suara, atau elemen personal tanpa izin resmi (consent) untuk pembuatan konten sintetis.
- Akurasi dan Kesalahan Produksi: Potensi bias, manipulasi, atau kekeliruan fatal dalam output yang dihasilkan oleh algoritma AI.
- Dampak Lingkungan: Konsumsi energi yang sangat besar dalam pengoperasian dan pelatihan model-model AI berskala besar.
- Kesenjangan Keterampilan: Melebarnya jarak kemampuan teknis dan etis di kalangan pekerja kreatif dalam mengadaptasi teknologi secara bijak.
Kesalahan sekecil apa pun, seperti perubahan satu huruf pada kemasan produk atau penggunaan dokumen sensitif tanpa proteksi, dapat dengan cepat memicu krisis reputasi yang meluas. Biaya untuk memulihkan kepercayaan publik jauh lebih mahal dibandingkan efisiensi biaya produksi yang ditawarkan oleh AI.
Langkah Strategis Memperkuat Profesi Humas
Menghadapi risiko tersebut, Devie Rahmawati mendorong adanya langkah konkrit berupa penerapan audit reputasi AI secara berkala, skema pengamanan data klien yang ketat, serta transparansi penuh atas penggunaan konten sintetis. Yang tak kalah penting, verifikasi dan kontrol penuh oleh manusia (human-in-the-loop) harus tetap menjadi standar utama sebelum sebuah informasi dipublikasikan ke khalayak luas.
Profesi PR di era AI dituntut untuk naik kelas. Bukan lagi sekadar teknisi pembuat konten atau pengelola pemberitaan media, melainkan bertransformasi menjadi mitra strategis bagi pimpinan organisasi dalam merumuskan kebijakan yang adil, responsif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post