Semai Integritas Sejak Dini, KPK Soroti Praktik ‘Titip Absen’ di Lingkungan Pendidikan Malang Raya
Maraknya kebiasaan sepele yang mengabaikan kejujuran di kalangan generasi muda, seperti praktik titip absen dan pemalsuan daftar hadir di sekolah maupun perguruan tinggi, kini menjadi perhatian serius. Perilaku yang kerap dianggap maklum oleh sebagian pelajar dan mahasiswa tersebut dinilai sebagai cikal bakal atau benih dari tindakan koruptif yang berpotensi merusak integritas saat mereka memasuki dunia kerja kelak.
Kawasan Malang Raya yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan terbesar di Jawa Timur dengan puluhan ribu mahasiswa dan pelajar, memiliki peran strategis dalam membendung budaya ketidakjujuran ini. Pembentukan karakter berintegritas di lingkungan pendidikan menjadi benteng utama agar mentalitas koruptif tidak berakar dan dianggap sebagai hal yang lumrah.
Korupsi Kecil yang Dibiarkan Berisiko Menjadi Kebiasaan
Program Manager Operasi Tangkap Tawa dari Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Adi Fauzanto, menegaskan bahwa kebiasaan tidak jujur tidak pernah muncul secara mendadak dalam skala besar. Sebaliknya, mentalitas tersebut dipupuk dari pembiaran terhadap pelanggaran-pelanggaran kecil dalam kehidupan sehari-hari.
“Korupsi itu juga ada korupsi kecil. Misalnya, absen. Kita tidak usah bicara korupsi yang gede, tapi korupsi yang kecil, bibit-bibitnya mentalnya sudah ada,” ujar Adi Fauzanto.
Ia mencontohkan, praktik titip absen di kampus sering kali dipandang sepele, padahal tindakan tersebut jelas melanggar komitmen kejujuran dan membohongi tenaga pengajar. “Sesederhana titip absen saja. Kalau memang tidak bisa masuk, ya sudah tidak bisa masuk. Tidak perlu titip absen, tidak perlu membohongi dosen,” tegasnya.
Menurut Adi, jika pola pembenaran atas kesalahan kecil ini terus dipelihara, seseorang akan terbiasa melakukan pelanggaran yang lebih besar ketika memegang tanggung jawab di organisasi maupun instansi kerja. “Korupsi ini bukan hal yang tiba-tiba ada, tapi dia dirawat,” imbuhnya.
Membangun Ekosistem Antikorupsi Lewat Keteladanan dan Kreativitas
Untuk memutus rantai kebiasaan buruk tersebut, pembentukan integritas harus dimulai dari kesadaran individu yang didukung oleh lingkungan sosialnya. Lingkungan pertemanan, kampus, hingga tempat kerja di Malang Raya diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang saling menjaga dan berani menegur tindakan tidak jujur.
Dalam memberikan teguran, Adi menekankan pentingnya pendekatan berbasis keteladanan. Seseorang harus mampu memberikan contoh nyata sebelum mengingatkan orang lain agar pesan moral yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
“Jangan sampai kita melarang orang melakukan sesuatu, tapi kita sendiri melakukannya. Yang benar adalah kita melakukan sesuatu, menjadikan kita contoh, habis itu baru menasihati,” jelas Adi.
Selain keteladanan, gerakan antikorupsi bagi generasi muda juga dapat disuarakan melalui kanal-kanal kreatif yang sesuai dengan minat mereka. Kampanye integritas tidak lagi harus kaku, melainkan bisa disalurkan melalui media seni dan populer.
- Karya Tulis dan Konten Digital: Menyebarkan pesan kejujuran melalui artikel, unggahan media sosial, dan video edukatif.
- Seni dan Musik: Memanfaatkan panggung ekspresi anak muda untuk menyuarakan bahaya pembiaran ketidakjujuran.
- Komedi dan Seni Pertunjukan: Menggunakan pendekatan humor kritis seperti stand-up comedy untuk menyentil fenomena sosial secara konstruktif.
Budaya antikorupsi tidak boleh berhenti sekadar menjadi slogan di atas kertas. Nilai kejujuran dan tanggung jawab harus dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat tidak ada pengawasan, demi mencetak generasi masa depan Malang Raya yang berintegritas tinggi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post