Resonansi Murni Kolektif Jazz Fusion dalam Rilisan Anyar ‘1995’
Musik yang berjiwa tidak pernah benar-benar mati bersama pembuatnya. Ia melintasi ruang, meretas waktu, dan terus hidup melalui tangan-tangan penafsir baru yang merawat apinya tetap menyala. Spirit itulah yang terpancar kuat dari rilisan terbaru kolektif jazz fusion legendaris, SIMAKDIALOG. Lewat album rekaman langsung (live album) bertajuk 1995, unit progresif ini membuktikan bahwa warisan musikalitas sang mentor sekaligus pendiri, mendiang Riza Arshad, masih sangat relevan, liar, dan memikat untuk dijelajahi hari ini.
Merekam energi organik dari intimasi pertunjukan mereka di Ruang Tamu Tony pada Juni lalu, album ini bukan sekadar bentuk nostalgia murahan. 1995 adalah sebuah pernyataan artistik—sebuah jembatan antargenerasi yang melanjutkan eksplorasi mendalam atas rangkaian komposisi masterpise bertajuk Gong, karya visioner Riza Arshad yang mendahului zamannya sebelum ia berpulang pada awal 2017 silam.
Napas Baru, Eksplorasi Tanpa Batas
Dihuni oleh barisan virtuoso muda dan berpengalaman seperti Sri Hanuraga (piano/keyboards), Cucu Kurnia (perkusi/kendang), Jason Mountario (bas), dan Dinar Rizkianti (perkusi), SIMAKDIALOG format terkini berhasil menyuntikkan nyawa baru tanpa merusak cetak biru asli sang maestro. Mereka tidak sekadar memainkan ulang notasi, melainkan menafsir ulang ide-ide Riza lewat sudut pandang dan kebebasan ekspresi musikal masing-masing.
Pendengar diajak bertualang melintasi lanskap bunyi yang dinamis. Jalur trek dibuka dengan nomor esensial “1995”, disusul leburan eksplosif lewat medley komposisi kompleks “Gong 5” dan “Gong 6” yang berkelindan mesra dengan “Gong 1” dan “Gong 2”. Tidak ketinggalan, interpretasi ulang yang emosional atas karya klasik “This Spirit” menjadi pembuktian betapa sakralnya relasi antara instrumen dan penikmatnya. Kombinasi tangga nada jazz modern dengan ritme etnik yang presisi memberikan tekstur audio yang kaya dan berkarakter.
Langgam Panjang Sebuah Warisan Etnik-Progresif
Sejak didirikan oleh Riza Arshad bersama drummer Arie Ayunir pada 1993—yang kemudian diperkuat oleh sosok penting seperti gitaris Tohpati Ario Hutomo dan bassis Indro Hardjodikoro—SIMAKDIALOG memang selalu konsisten berada di garis depan eksperimentasi. Keberanian mereka melepas set drum konvensional dan menggantikannya dengan dominasi perkusi tradisional, khususnya kendang Sunda, telah menempatkan nama mereka dalam kasta terhormat kancah world music dan jazz fusion internasional.
Bagi Sri Hanuraga, yang telah mengenal Riza sejak 1997, proyek ini adalah wujud penghormatan tertinggi. Riza bukan hanya sosok komposer yang rendah hati dan sangat merangkul juniornya, tetapi juga seorang visioner sejati. Karya-karya yang ditinggalkan Riza memiliki kedalaman struktur dan kebebasan harmoni yang selalu memberi ruang bagi siapa saja untuk bernapas di dalamnya.
Kini, lewat naungan label rekaman independen demajors, album 1995 telah resmi mengudara di berbagai platform pemutar musik digital. Bagi para kolektor audio fisik yang merindukan artikulasi bunyi yang murni dan otentik, album ini juga hadir dalam format CD yang sudah bisa dikoleksi. Sebuah rilisan wajib bagi Anda penikmat eksplorasi musik tanpa batas.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post