Musik rock dan solidaritas sosial selalu punya benang merah yang tebal. Ketika dentuman drum dan distorsi gitar beristirahat dari panggung, taring para pengusungnya tak lantas tumpul untuk urusan kemanusiaan. Hal ini dibuktikan kembali oleh Edy Khemod, penggebuk drum raksasa oktan tinggi asal Jakarta, Seringai. Lewat langkah nyata yang patut diacungi jempol, Khemod melelang sebuah artefak musik penuh sejarah demi membantu para korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Benda yang dilepas bukan sekadar barang koleksi biasa. Ini adalah sebuah bass drum head (membran drum) custom yang memiliki nilai historis amat emosional. Membran ini adalah saksi bisu perjalanan Seringai, mulai dari dentuman pertama saat proses rekaman album fenomena mereka, Seperti Api, hingga mengawal energi gila-gilaan di atas panggung di berbagai kota sebelum kuartet high-octane rock ini memutuskan untuk hiatus.
Artefak Otentik dan Sentuhan Visual Arian13
Bagi para Serigala Militia—sebutan akrab penggemar Seringai—membran drum ini adalah piala suci. Dilapisi stiker vinil bergambar karya visual album Seperti Api, benda koleksi ini makin berharga karena dibubuhi tanda tangan langsung dari para personel band. Khemod menegaskan bahwa membran drum tersebut hanya dibuat satu unit dan tidak akan pernah direproduksi kembali.
Visual pada membran ini pun bukan grafis sembarangan. Ilustrasi dan tata letaknya merupakan buah karya langsung dari sang vokalis, Arian13, dengan sentuhan pewarnaan ciamik dari Riza Prawiro. Dengan kata lain, memorabilia yang dilelang ini meleburkan dua elemen utama identitas Seringai: dentuman ritmis penuh tenaga dari Khemod dan estetika visual ikonik khas Arian13.
Warisan Cetar Album “Seperti Api”
Menengok kembali ke belakang, Seperti Api yang dirilis pada 29 Juli 2018 adalah salah satu monumen penting dalam lanskap musik cadas Tanah Air. Diproduseri oleh sang gitaris, Ricky Siahaan, album yang memuat 12 trek ini melahirkan amunisi panggung yang tak pernah gagal menyulut moshpit, seperti “Selamanya” dan “Adrenalin Merusuh”. Album ini juga menampilkan kolaborasi tak terduga yang manis lewat trek “Ishtarkult” yang menggandeng penyanyi solo Danilla Riyadi.
Membran drum yang kini dilelang tersebut adalah bagian tak terpisahkan dari denyut nadi seluruh trek ikonik itu. Mengubah fungsi dari sekadar alat musik penopang tempo menjadi pundi-pundi dana kemanusiaan menjadi aksi balasan yang sangat puitis bagi sebuah karya musik cadas.
Aksi Lelang Buka Suara Lewat Media Sosial
Inisiatif aksi sosial ini dibuka secara terbuka melalui akun Instagram pribadi milik Khemod. Proses lelang dimulai dengan harga penawaran awal (open bid) senilai Rp1 juta, dengan kelipatan penawaran minimum Rp100 ribu di kolom komentar. Lelang ini berlangsung ketat selama 48 jam.
Seluruh dana yang terkumpul dari penawaran tertinggi akan disalurkan secara utuh untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana kebakaran hutan di Kalimantan. Khemod menegaskan bahwa dana tersebut akan disalurkan melalui lembaga sosial yang kredibel dan kompeten, sembari mengingatkan para penawar untuk bertanggung jawab atas angka yang mereka cantumkan mengingat misi di balik lelang ini adalah murni kemanusiaan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post