MALANG TODAY – Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan tipis proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2026 menjadi 3,1 persen, naik 0,1 poin persentase dibandingkan perkiraan sebelumnya. Lonjakan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utama yang menopang perekonomian dunia, sekaligus membantu mengimbangi dampak negatif akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Dalam laporan World Economic Outlook terbaru bertajuk “Resilience Under Strain, Urgent Choices”, IMF memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi global akan melambat dari 3,5 persen pada 2025 menjadi 3,1 persen pada 2026. Namun, kinerjanya diperkirakan membaik dan kembali meningkat ke angka 3,4 persen pada 2027.
Investasi AI dan Pergeseran Ekonomi Global
IMF mencatat adanya pergeseran pola pertumbuhan yang kini semakin terkonsentrasi. Saat ini, sebanyak 32 negara menyumbang hingga 95 persen dari total pertumbuhan global, menyusut signifikan dibandingkan sebelumnya yang melibatkan 54 negara. Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan bagi sekitar 47 persen perekonomian dunia justru mengalami revisi penurunan.
Perekonomian global saat ini sangat dipengaruhi oleh tingkat paparan masing-masing negara terhadap guncangan energi akibat perang, serta tingginya permintaan perangkat keras AI. Negara-negara yang terhubung kuat dengan rantai pasokan teknologi AI dan memiliki kerentanan rendah terhadap gejolak energi mencatatkan kinerja ekonomi paling tangguh.
Sebaliknya, negara-negara pengimpor energi yang minim akses ke rantai teknologi—termasuk banyak negara berpendapatan rendah—harus menanggung beban berat akibat kenaikan biaya impor, pelemahan nilai tukar mata uang, serta penurunan pendapatan riil masyarakat.
Dampak Konflik Timur Tengah dan Jalur Energi
Konflik di Timur Tengah memberikan tekanan besar pada pasokan energi dunia. Skenario dasar IMF mengasumsikan Selat Hormuz baru akan dibuka kembali secara penuh pada awal 2027. Jalur vital ini sebelumnya dilintasi oleh sekitar 25 persen dari total perdagangan minyak mentah dunia yang diangkut melalui jalur laut.
Penutupan Selat Hormuz berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,9 poin persentase tahun ini. Namun, langkah penyesuaian seperti pengalihan jalur distribusi, peningkatan produksi di kawasan lain, penggunaan cadangan minyak, serta efisiensi energi berhasil menekan dampak bersihnya menjadi sekitar 0,3 poin persentase.
Gangguan distribusi energi ini berdampak serius bagi negara-negara produsen di kawasan Teluk. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Arab Saudi untuk tahun 2026 dipangkas hingga 5 poin persentase, sehingga diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 3,3 persen. Sementara itu, negara-negara seperti Bahrain, Irak, Kuwait, dan Qatar berpotensi menghadapi kontraksi ekonomi hingga dua digit.
Ancaman Inflasi dan Prospek Negara Maju
Penipisan persediaan minyak global yang mendekati batas kritis berisiko memicu lonjakan harga. IMF memperkirakan harga minyak mentah dunia akan melambung tinggi hingga rata-rata 95,74 dolar AS per barel pada 2026—melonjak sekitar 41 persen dibandingkan tahun 2025—sebelum melandai ke tingkat 87,39 dolar AS per barel pada 2027.
Kondisi ini turut mendongkrak laju inflasi utama global yang diproyeksikan naik dari 4,1 persen pada 2025 menjadi 4,7 persen pada 2026, lalu mereda kembali ke angka 4,1 persen pada 2027. Inflasi inti di kawasan berpendapatan tinggi seperti Amerika Serikat (AS) dan kawasan euro diperkirakan baru dapat kembali ke target stabil 2 persen pada pertengahan 2028.
Di tingkat kawasan, pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan stabil di angka 2,3 persen untuk tahun 2026 dan 2027, ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, kebijakan fiskal, serta investasi di sektor teknologi. Sementara itu, kawasan euro diperkirakan hanya tumbuh lambat sebesar 1,1 persen pada 2026 akibat tingginya harga energi dan melemahnya kepercayaan konsumen.
Untuk kawasan Asia, India diprediksi memimpin pertumbuhan dengan angka impresif mencapai 7,0 persen pada 2026 dan 2027. Di sisi lain, Jepang diproyeksikan tumbuh 0,7 persen dan Inggris mencatatkan pertumbuhan 1,3 persen pada periode yang sama.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post