Maha-Proyek Lima Kepala: Ketika Para Raksasa Indie Bersatu dalam ‘Frames’
Bayangkan apa yang terjadi ketika figur-figur kunci kancah musik independen tanah air berkumpul dalam satu ruangan tanpa beban ekspektasi. Adalah Iga Massardi, Fathia Izzati, John Paul Patton, Enrico Octaviano, dan Bilal Indrajaya—lima nama besar dengan karakter musikalitas yang sangat kuat—yang memutuskan untuk meleburkan ego mereka ke dalam wadah kolektif bernama Portura. Hasilnya? Sebuah mini album (EP) perdana bertajuk Frames yang menjadi bukti sahih bahwa kolaborasi lintas elemen ini bukan sekadar gimik panggung belaka.
Lahir dari inisiasi kolektif Lintas Resonan pada penghujung tahun lalu, ikatan kimiawi antara kelima musisi ini berkembang jauh melampaui proyek tumpangan. Mereka berhasil mengalirkan frekuensi yang sama, merajut cerita tentang realita sosial, kecemasan urban, hingga mekanisme bertahan hidup di tengah riuk-pikuk zaman. EP Frames hadir sebagai sebuah potret audio yang menangkap spektrum emosi manusia modern secara jujur dan tanpa basa-basi.
Eksplorasi Tanpa Batas dan Spektrum Musikalitas yang Organik
Satu hal yang membuat Frames terdengar begitu segar adalah pendekatan komposisinya yang mengalir cair. Tanpa terkurung pada satu genre yang kaku, EP yang berisi lima trek ini menjadi arena bermain yang merdeka bagi para personelnya. Isyarat awal keberanian mereka telah dilepaskan lewat single perkenalan “Ye Ye Ye”, sebuah nomor yang memadukan keasyikan sonic dengan visualisasi video musik unik berkonsep escape room garapan sutradara Agung Pambudi bersama QUN Films.
Namun, kedalaman Frames baru terasa utuh saat menyimak empat nomor lainnya: “Deru”, “L’existence”, “Falling Off/Tangguh”, dan “Koma”. Setiap lagu menyimpan cetak biru organik; ada yang berangkat dari kerangka demo pribadi yang digarap bersama, ada pula yang diracik murni dari jam session spontan di dalam studio. Kebebasan kreatif ini memberi ruang bagi vokal khas Bilal dan Fathia untuk saling melengkapi, disokong oleh raungan gitar Iga, dentuman bass magis Coki (John Paul Patton), serta ketukan presisi dari Enrico.
“Proses kreatifnya nggak terlalu banyak berfokus pada konsep, kita coba menulis apa yang mau kita tulis dan rasakan,” ungkap Enrico Octaviano, menggambarkan betapa alaminya proses pendewasaan materi dalam album pendek ini.
Sentuhan Arsitek Audio di Balik Layar
Secara teknis produksi, Frames digarap dengan ketelitian tinggi tanpa kehilangan dinamika mentah khas musik rock/pop alternatif. Duo Enrico Octaviano dan Iga Massardi berbagi peran di kursi produser, memastikan tiap instrumen memiliki ruang bernapas yang cukup. Dimensi audio album ini kian pekat berkat sentuhan dingin Rama Harto di meja mixing (RekamKamar Studio) serta polesan akhir mastering dari tangan dingin Dimas Pradipta di Sum It! Studio.
EP Frames bukan sekadar perayaan atas berkumpulnya para bintang, melainkan sebuah monumen kecil tentang bagaimana kejujuran bermusik mampu melintasi batasan latar belakang. Bagi penikmat musik Indonesia yang merindukan racikan musik alternatif dengan lirik yang bernyawa dan aransemen yang matang, mini album dari Portura ini adalah sebuah sajian yang wajib masuk dalam daftar putar prioritas.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post