Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat hingga menembus level psikologis baru pada perdagangan akhir pekan, Jumat (24/10). Gejolak ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif domestik dan global, terutama wacana penurunan status pasar modal Indonesia oleh lembaga pemeringkat global MSCI, yang diperparah oleh lonjakan harga minyak dunia serta menguatnya mata uang Greenback.
Berdasarkan data perdagangan pasar uang, mata uang Garuda ditutup melemah 89 poin atau 0,50 persen ke level Rp 18.027 per dolar AS. Posisi ini merosot tajam dibandingkan penutupan sesi sebelumnya yang berada di level Rp 17.938 per dolar AS.
Wacana Downgrade MSCI Guncang Kepercayaan Investor
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan utama terhadap rupiah berasal dari aksi lepas aset oleh investor. Hal ini merespons proposal MSCI yang berencana mereklasifikasi status pasar modal Indonesia dari kategori emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market (pasar berdiri sendiri).
Rencana penurunan status tersebut didasari atas kekhawatiran yang terus berlanjut terkait tata kelola pasar modal, ketidakjelasan penegakan hukum, serta indikasi praktik perdagangan yang terkoordinasi secara tidak wajar di bursa domestik. MSCI dijadwalkan akan mengumumkan keputusan resminya pada 30 Juni 2027 mendatang.
“Meskipun regulator telah meluncurkan berbagai langkah reformasi, MSCI menilai penegakan aturan di Indonesia masih lemah dan fungsi pasar belum berjalan secara optimal,” ungkap Ibrahim dalam analisis tertulisnya.
Dinamika Minyak Mentah dan Arah Kebijakan The Fed
Dari ranah eksternal, kecemasan pasar sempat sedikit terobati oleh sinyal reda ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan penghapusan sanksi terhadap sejumlah kapal tangki minyak—yang dikenal sebagai armada bayangan (shadow fleet)—pengangkut produk minyak bumi dari Rusia, Iran, dan Venezuela. Langkah pragmatis ini diambil guna menekan biaya pengiriman global yang sebelumnya melonjak ke rekor tertinggi.
Kendati demikian, konflik bersenjata yang masih membara antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman, serta insiden serangan baru terhadap kapal-kapal komersial di kawasan Laut Merah, tetap menjaga harga minyak mentah berada di level tinggi. Kondisi ini secara otomatis memberikan topangan kuat bagi penguatan dolar AS di pasar global.
Di sisi lain, ekspektasi terhadap kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed) turut memperberat langkah rupiah. Sejumlah pejabat The Fed mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat belum menjadi prioritas mendesak.
“Pelaku pasar saat ini tengah mencermati dengan seksama arah pandangan yang akan disampaikan oleh Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok, guna membaca petunjuk kebijakan jelang rapat moneter akhir bulan ini,” pangkas Ibrahim.
Pergerakan Mata Uang Asing Lainnya
Tekanan mata uang global tidak hanya terjadi pada pasangan rupiah terhadap dolar AS. Berdasarkan data ekonomi terkini, pergerakan rupiah terhadap beberapa mata uang utama dunia tercatat sebagai berikut:
- Dolar Singapura (SGD): Rp 14.078
- Yen Jepang (JPY): Rp 114,10
- Dolar Australia (AUD): Rp 12.547
- Euro (EUR): Rp 20.270

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post