Langkah Berani Indonesia Menuju Transisi Energi Bersih
Maluku Utara bersiap mencatatkan sejarah sebagai provinsi pertama di Indonesia yang akan dialiri listrik bersumber dari tenaga nuklir. Kepastian ini didapat setelah kesepakatan strategis berhasil dicapai antara BUMN nuklir asal Rusia, Rosatom, dengan perusahaan domestik PT Pembangkit Listrik Nuklir untuk menghadirkan proyek pembangkit listrik nuklir terapung bernilai komersial di kawasan timur Indonesia.
Kerja sama berskala internasional tersebut mencakup penyediaan daya listrik sebesar 200 megawatt (MW) yang dihasilkan dari dua unit pembangkit nuklir terapung. Penandatanganan nota kesepahaman ini berlangsung di sela-sela agenda Russian Energy Week di Moskow. Pembangkit ini ditargetkan beroperasi penuh memasok kebutuhan energi di wilayah Halmahera Utara dalam kurun waktu lima tahun setelah seluruh syarat teknis dan kontrak komersial disahkan.
Teknologi Terapung Canggih Tanpa Beban APBN
Dalam proyek perintis ini, Rosatom akan menyiagakan unit FPU-100 yang masing-masing berkapasitas 100 MW dan ditenagai reaktor maritim generasi terbaru seri RITM-200M. Teknologi ini dirancang khusus untuk menyuplai energi secara stabil dan berkelanjutan bagi wilayah kepulauan, kawasan terpencil, hingga pusat-pusat industri pesisir.
Direktur Utama PT Pembangkit Listrik Nuklir yang juga pakar nuklir nasional, Yudi Utomo Imardjoko, menegaskan bahwa proyek ini beroperasi penuh dengan skema Business-to-Business (B2B). Seluruh pendanaan bersumber murni dari investasi sektor swasta tanpa mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Tanggung jawab utama kami sebagai investor nasional adalah memimpin transisi energi di Indonesia. Pasokan listrik yang bersih, andal, dan bebas emisi karbon sangat krusial untuk menjamin ketahanan energi jangka panjang serta menopang pertumbuhan ekonomi kawasan timur,” ujar Yudi.
Dukungan penuh juga datang dari pengusaha tambang nasional pemilik Indotan Group, Haji Romo Nitiyudo Wachjo (Haji Robert), yang mengapresiasi kolaborasi tingkat tinggi antara pemerintah Indonesia dan Rusia dalam merealisasikan proyek infrastruktur energi masa depan di Halmahera Utara.
Rekor Baru Ekspor Energi Nuklir Dunia
Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, menyambut optimistis kerja sama ini. Ia menggarisbawahi bahwa kesepakatan dengan Indonesia merupakan rekor baru, yakni perjanjian ekspor listrik pertama di dunia yang dihasilkan dari pembangkit listrik nuklir terapung.
“Kemitraan Rusia dan Indonesia berkembang sangat pesat. Komitmen kuat dari Presiden Prabowo Subianto makin mempertegas posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar yang konsisten meningkatkan ketahanan energi dan mengejar target netralitas karbon,” ungkap Likhachev.
Likhachev menambahkan, keterlibatan aktif sektor swasta yang didukung regulasi pemerintah akan menjadi sinyal positif bagi iklim investasi global bahwa proyek nuklir mampu menjadi penggerak utama transformasi ekonomi sebuah negara.
Peta Jalan Energi Nuklir Nasional
Pemerintah Indonesia sendiri telah memasukkan opsi energi nuklir ke dalam Rencana Umum Energi Nasional demi mempercepat tercapainya target net zero emission pada 2060. Pendekatan Rosatom di Indonesia dilakukan secara bertahap, dimulai dari penempatan unit terapung skala kecil sebelum beralih ke pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) darat berkapasitas lebih besar.
Penggunaan teknologi nuklir terapung ini merujuk pada keberhasilan operasional reaktor Akademik Lomonosov milik Rusia di wilayah Arktik, Chukotka, yang sejak 2020 telah memproduksi hampir 1,4 miliar kilowatt-jam (kWh) listrik. Keberhasilan tersebut membuktikan reaktor maritim modular dapat menjadi solusi teruji untuk wilayah-wilayah kepulauan seperti Indonesia.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post