JAKARTA — Isu ketidakhadiran peran ayah atau fenomena fatherless semakin menjadi perhatian serius di Indonesia. Dampak psikologis akibat ketiadaan figur ayah—baik karena kematian, perceraian, maupun kehadiran fisik tanpa keterlibatan emosional—sering kali meninggalkan luka mendalam yang terbawa hingga usia dewasa.
Menjawab realitas sosial tersebut, praktisi pengasuhan dan aktivis kemanusiaan Ayah Mansuri resmi meluncurkan karya terbarunya berjudul “Kalau Lelah, Pulang ke Ayah, Nak!”. Acara peluncuran karya literasi yang diterbitkan oleh Gradien Mediatama ini digelar di Function Room Gramedia Matraman, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Buku ini dirancang khusus sebagai ruang pemulihan emosional (healing space) dan media katarsis bagi generasi muda, khususnya Generasi Z, yang tumbuh tanpa pendampingan figur ayah yang utuh.
Menyediakan Ruang Pemulihan Emosional dan Refleksi Diri
Tidak sekadar berisi narasi curahan hati, buku setebal 172 halaman ini menghadirkan pendekatan interaktif. Di dalamnya dilengkapi dengan lembar aktivitas seperti jurnal refleksi, daftar cek emosi, hingga fitur “Surat yang Tak Pernah Dikirim”. Fitur-fitur ini mengajak pembaca untuk mengenali, menerima, dan melepaskan berbagai trauma masa lalu, mulai dari rasa rindu, amarah, hingga perasaan bersalah.
Pendekatan yang diusung Ayah Mansuri dibangun melalui format dialog imajiner. Ia menempatkan diri sebagai sosok ayah yang menjawab berbagai pertanyaan, keputusasaan, dan kelelahan mental yang dirasakan oleh anak-anak korban fatherless.
Pesan sentral dari karya ini terangkum jelas dalam salah satu kutipan pentingnya: “Nak, sedalam apa pun luka yang ditinggalkan ayahmu, tolong jangan ikut menyakiti dirimu. Seburuk apa pun trauma yang pernah kamu terima dari ayahmu, tolong jangan ikut membenci dirimu. Kamu layak dicintai, kamu layak untuk sembuh, dan kamu layak untuk bahagia.”
Rekam Jejak Kepedulian Melalui Rumah Istimewa
Nama Ayah Mansuri sendiri sudah tidak asing di media sosial. Pria kelahiran Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah ini dikenal luas sebagai figur “ayah daring” yang konsisten memberikan dukungan moral bagi anak-anak yang kehilangan arah akibat minimnya peran orang tua.
Komitmen tersebut dibuktikan secara nyata melalui pendirian Yayasan Rumah Istimewa (sebelumnya bernama Rumah Mans) pada tahun 2021. Lembaga sosial ini berfokus menyediakan ruang aman bagi anak-anak agar dapat tumbuh mandiri dan percaya diri. Hingga saat ini, yayasan tersebut tercatat telah menaungi tak kurang dari 5.400 anak di berbagai wilayah Indonesia.
Peluncuran buku kategori pengembangan diri seri keluarga ini turut dihadiri oleh berbagai komunitas dan penikmat literasi. Rangkaian acara diisi dengan diskusi interaktif, sesi berbagi pengalaman antara penulis dan pembaca, hingga penandatanganan buku.
Melalui penerbitan karya ini, Ayah Mansuri tidak hanya berharap dapat merangkul para penyintas trauma fatherless, tetapi juga menyampaikan pesan reflektif bagi para orang tua di Indonesia tentang krusialnya kehadiran dan kasih sayang utuh dalam tumbuh kembang anak.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post