Peringatan ADHD Awareness Month atau Bulan Kesadaran ADHD yang jatuh setiap bulan Oktober menjadi momen krusial bagi para orang tua untuk memperdalam pemahaman mengenai kesehatan mental dan tumbuh kembang anak. Publik kerap mengaitkan perilaku anak yang terus bergerak, sulit fokus di kelas, atau bertindak impulsif sebagai tanda dari Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD). Namun, pakar mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru melakukan diagnosis mandiri (self-diagnosis) tanpa evaluasi medis yang valid.
Pusat layanan student care dan enrichment inklusif Atelier of Minds mengimbau para orang tua agar dapat mengamati pola perilaku dan kebutuhan buah hati secara lebih objektif. Sikap tergesa-gesa dalam memberikan label pada anak justru berpotensi mengabaikan akar permasalahan tumbuh kembang yang sebenarnya.
Pentingnya Evaluasi Profesional dan Mengenali Tiga Gejala Utama
Psikolog dari Atelier of Minds, Diah Cahyaningrum, menegaskan bahwa tingkah laku anak yang aktif atau tidak bisa diam bukanlah bukti mutlak bahwa anak tersebut mengidap ADHD. Menurutnya, kecemasan orang tua saat menerima laporan dari pihak sekolah atau melihat dinamika anak di rumah merupakan hal yang wajar, tetapi langkah pengamatan harus dilakukan secara cermat.
“Melihat indikasi awal bukan berarti anak pasti mengidap ADHD. Fokus utama orang tua adalah mengamati dan memahami pola perilaku anak, bukan terburu-buru memberikan label. ADHD memiliki kriteria diagnostik yang terukur dan membutuhkan evaluasi menyeluruh dari profesional yang kompeten,” ujar Diah.
Secara medis, ADHD ditandai oleh pola kurangnya perhatian (inatensi), hiperaktivitas, serta impulsivitas yang menetap dan berpotensi mengganggu fungsi perkembangan atau kehidupan sehari-hari anak. Diah memaparkan tiga kelompok gejala utama yang patut dicermati:
- Inatensi: Anak cenderung mudah teralihkan, kesulitan mempertahankan konsentrasi, gagal menyelesaikan instruksi, serta lemah dalam mengorganisasi tugas maupun barang-barang pribadinya.
- Hiperaktivitas: Menunjukkan aktivitas fisik berlebihan, seperti terus bergerak, gelisah, sering mengetuk tangan atau kaki, hingga berbicara secara berlebihan.
- Impulsivitas: Kecenderungan bertindak secara mendadak tanpa memikirkan konsekuensi, seperti menyela pembicaraan orang lain atau melakukan tindakan berisiko.
Berdasarkan dominasi gejala tersebut, kondisi ADHD terbagi ke dalam tiga klasifikasi tipe, yakni tipe dominan inatensi, tipe dominan hiperaktivitas dan impulsivitas, serta tipe kombinasi. Dampak dari kondisi ini bervariasi pada tiap individu, mulai dari hambatan akademis hingga tantangan dalam interaksi sosial.
Membangun Lingkungan Terstruktur dan Rutinitas Konsisten
Selain melakukan konsultasi dengan tenaga ahli, penanganan anak dengan indikasi ADHD dapat dioptimalkan melalui intervensi di lingkungan keluarga. Terapis Okupasi Atelier of Minds, Dwi Ayu Nur Komariyah, menekankan pentingnya peran orang tua dalam merancang pola hidup yang terstruktur guna melatih keteraturan dan kemandirian anak.
“Kuncinya terletak pada pembentukan lingkungan yang terstruktur. Orang tua dapat memulainya dengan membuat rutinitas harian yang konsisten, mulai dari waktu bangun hingga tidur,” jelas Dwi.
Dwi mengimbau agar proses latihan pengontrolan diri dilakukan secara bertahap. Contoh sederhana yang dapat diterapkan di rumah adalah membiasakan anak meletakkan tas sekolah, pakaian, dan mainan di lokasi yang sama setiap hari. Langkah ini efektif melatih daya ingat sekaligus membangun kedisiplinan sejak dini.
Melalui momentum edukasi publik ini, pengamatan yang cermat dari orang tua serta dukungan lingkungan yang memadai diharapkan dapat membantu anak-anak dengan kecenderungan ADHD untuk tetap tumbuh optimal dan menjalankan aktivitas harian secara lebih baik.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post