MALANG TODAY – Operasi militer Ukraina mengalami hambatan serius setelah perusahaan kedirgantaraan asal Amerika Serikat, SpaceX, mendadak membatasi layanan internet satelit Starlink. Langkah sepihak ini memicu kekacauan pada misi pesawat nirawak (drone) militer Ukraina, baik untuk keperluan serangan maupun pertahanan udara.
Penasihat Presiden Ukraina, Serhii Beskrestnov, mengungkapkan bahwa SpaceX memberlakukan pembatasan kecepatan pada terminal-terminal Starlink yang beroperasi di wilayahnya. Keputusan ini diambil tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu kepada otoritas pertahanan Ukraina.
“Pasukan pertahanan kami tidak menerima peringatan apa pun mengenai pembatasan tersebut, dan hal ini mengakibatkan sejumlah misi terganggu,” ujar Beskrestnov. Ia mengisyaratkan bahwa kebijakan mendadak ini kemungkinan besar berkaitan erat dengan dinamika geopolitik dan situasi politik internasional saat ini.
Zelensky Sebut Kebijakan Berbahaya, Elon Musk Buka Suara
Menanggapi pembatasan layanan Starlink versi militer tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melayangkan kritik tajam. Zelensky menegaskan bahwa keputusan tersebut sangat fatal dan berpotensi meningkatkan jumlah korban di pihak Ukraina.
“Ini kesalahan besar. Keputusan ini akan menimbulkan banyak korban jiwa,” tegas Zelensky.
Di sisi lain, CEO SpaceX Elon Musk memberikan klarifikasi terkait tuduhan tersebut. Musk menyatakan bahwa kendali penuh atas kecepatan dan penggunaan sistem komunikasi satelit Starlink sebenarnya berada di bawah wewenang Pemerintah Amerika Serikat. Menurutnya, setiap pembatasan yang terjadi merupakan keputusan langsung dari pihak militer AS dan Presiden AS.
Eskalasi Serangan Rusak Infrastruktur Listrik Ukraina
Isu pembatasan Starlink ini mencuat di tengah tensi politik AS. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengklaim bahwa Rusia dan Ukraina telah sepakat untuk menghentikan saling serang terhadap target infrastruktur energi. Namun, klaim tersebut belum pernah dikonfirmasi secara resmi oleh pihak Kiev maupun Moskow.
Kondisi di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Pasukan Rusia terus meningkatkan intensitas gelombang serangan rudal dan drone ke berbagai kota di Ukraina. Serangan beruntun ini menghantam berbagai infrastruktur penting dan fasilitas energi vital, yang mengakibatkan sedikitnya 600.000 warga Ukraina harus hidup tanpa aliran listrik.
Rangkaian pengeboman yang melanda ibu kota Kiev dilaporkan terus berlanjut. Bahkan, pejabat lokal mengonfirmasi sedikitnya enam orang tewas akibat serangan udara Rusia yang menghantam Kota Lutsk di Ukraina barat.
Ketegangan Diplomatik Ukraina dan Amerika Serikat
Di tengah keterbatasan akses komunikasi, Ukraina mengklaim tetap melancarkan balasan berupa serangan jarak jauh ke wilayah Rusia, termasuk menargetkan pusat data terbesar milik negara tetangganya tersebut. Kendati demikian, Kiev mengaku masih menahan diri untuk tidak menyerang fasilitas energi Rusia sebagai bentuk kompromi dan penghormatan kepada Trump.
Hubungan diplomatik antara Kiev dan Washington kini berada di titik krusial. Selain menyesalkan pembatasan Starlink, pemerintah Ukraina secara terbuka menuduh Amerika Serikat cenderung membiarkan posisi Rusia, salah satunya dengan tidak memberikan peringatan dini terkait ancaman serangan rudal mendatang yang mengincar wilayah Ukraina.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post