Ada sesuatu yang magis sekaligus memuaskan ketika melihat Charli XCX akhirnya merebut tahta tertinggi peta musik global lewat album “Brat” pada 2024. Charlotte Aitchison bukanlah pendatang baru yang lahir dari keajaiban algoritma TikTok semalam. Lebih dari satu dekade ia merayap di industri musik: menorehkan tinta emas di balik megahit “I Love It” milik Icona Pop, mengisi hook legendaris di tembang “Fancy” bersama Iggy Azalea, merajai tangga lagu lewat “Boom Clap”, hingga meraih posisi puncak di Inggris lewat album “Crash” (2022).
Namun, “Brat” bukanlah sekadar pencapaian komersial biasa. Album ini adalah manifesto. Charli tidak meraih puncak kariernya dengan cara ‘memoles’ musiknya agar ramah di telinga publik awam. Malah sebaliknya: ia makin menggali akar estetikanya yang mentah—mencampurkan club music yang bising, produksi elektronik yang destruktif, humor internet yang absurd, estetika DIY, serta lirik yang jujur tanpa filter tentang rasa cemburu, ego, keputusasaan, dan ambisi.
Paradoksnya sangat indah: semakin jauh Charli mengejek formula standar seorang pop star, semakin gila pula publik global bertekuk lutut di hadapannya.
Pop Star yang Tidak Pernah Sepenuhnya Mainstream
Sejarah industri pop kerap mendikte pola yang membosankan. Musisi berbakat ditemukan, dipoles oleh label raksasa, diberi lagu ramah radio, lalu dipasarkan sebagai produk massa yang ‘aman’. Di situ, kesuksesan diukur dari sejauh mana seorang seniman mampu menanggalkan identitas subkulturnya demi meraup audiens seluas mungkin.
Charli XCX memilih jalur yang jauh lebih liar. Berawal dari mengunggah trek eksperimental di MySpace sewaktu remaja, ia mengasah bakatnya dari panggung rave ilegal dan klab malam underground di London. Jiwa club culture dan ethos DIY itu tidak pernah luntur, bahkan ketika kontrak major label sudah di tangan.
Titik balik krusial terjadi ketika ia bertemu dengan mendiang produser visioner SOPHIE dan bos label PC Music, A. G. Cook. Lewat EP “Vroom Vroom” (2016), Charli mendeklarasikan perang terhadap pop konvensional. Suaranya berubah menjadi lebih metalik, futuristik, dan terdistorsi. Eksperimen ini dilanjutkan lewat mixtape kultus “Number 1 Angel” dan “Pop 2” (2017), hingga album introspektif era pandemi “How I’m Feeling Now” (2020).
Bersama para kolaboratornya, Charli mendobrak pintu hingga genre yang kini kita kenal sebagai hyperpop merembes masuk ke jantung industri musik populer. Apa yang dulu dianggap terlalu bising bagi telinga awam, perlahan bertransformasi menjadi cetak biru musik masa depan.
“Brat” dan Penolakan terhadap Kesempurnaan Pop
Lihat saja sampul album “Brat”. Di saat musisi papan atas berlomba-lomba memajang foto hasil suntingan studio berbiaya fantastis, Charli hanya melemparkan kotak berwarna hijau neon menyengat dengan tulisan “brat” beresolusi rendah di tengahnya. Sebuah estetika anti-design yang terkesan abai, murah, dan belum selesai.
Namun, di era kejenuhan visual yang terlalu dikurasi, kesederhanaan ekstrem itu justru meledak menjadi simbol perlawanan budaya. Dalam hitungan minggu, warna hijau neon tersebut menginvasi internet. Dunia berubah menjadi hijau: dari unggahan jenaka di media sosial, strategi pemasaran brand global, hingga lanskap politik modern. Warna itu bukan lagi sekadar piksel; ia menjelma menjadi identitas kolektif sebuah era.
Tak main-main, Launchmetrics mencatat fenomena visual ini menghasilkan lebih dari US$22,5 juta dalam skala Media Impact Value hanya dalam sebulan. Puncaknya, desain yang sengaja dibuat ‘asal-asalan’ ini diganjar piala Best Recording Package di ajang Grammy Awards 2025.
Ketika Pop Star Menjadi Pencipta Bahasa Budaya
Laporan dari berbagai pengamat musik menyebutkan bahwa “Brat” mendominasi lanskap pop bahkan sebelum ia memiliki satu breakout single utama di tangga lagu. Musababnya jelas: Charli tidak cuma menjual lagu, ia menjual ekosistem budaya.
Kata “brat” bergeser dari sekadar judul album menjadi kata sifat (adjective). Ia mewakili cara berpakaian, cara berpesta, hingga cara memeluk ketidaksempurnaan diri. Lewat pendekatan narasi transmedia dan budaya partisipatif, audiens tidak hanya bertindak sebagai pendengar pasif; mereka adalah elemen aktif yang membesarkan dunia buatan Charli.
Hal ini ditegaskan kembali lewat strategi rilis album remix bertajuk “Brat and it’s completely different but also still brat”. Charli tidak sekadar menambah vokal tamu di atas bit lama. Ia merombak total narasi lagu. Kolaborasinya dengan Lorde di lagu “Girl, so confusing” menjadi momen sejarah pop ketika keduanya secara terbuka membedah dinamika persaingan dan rasa cemburu sesama musisi wanita. Kehadiran nama-nama besar seperti Billie Eilish, Ariana Grande, hingga Julian Casablancas membuktikan bahwa album ini adalah sebuah dokumen budaya yang terus bernapas.
Kerentanan Tanpa Citra yang Dibuat-buat
Keunggulan utama Charli XCX terletak pada penolakannya untuk tampil sebagai figur yang selalu harus disukai (likable). Musik pop modern sering kali memaksakan ‘autentisitas yang dikurasi’—di mana sang musisi berpura-pura rapuh namun tetap menjaga citranya agar tampak sempurna di mata publik.
Charli menabrak dogma tersebut. Dalam trek seperti “Sympathy is a knife”, ia mengekspos rasa tidak percaya diri yang membakar dada di tengah gemerlap popularitas. Sementara lewat tembang haru “So I”, ia meratapi keperg

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post