Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Cape Town memanfaatkan momentum Resepsi Diplomatik Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia untuk mengonversi ikatan historis yang telah terjalin lama dengan Afrika Selatan menjadi kemitraan ekonomi yang lebih konkret. Gelaran yang berlangsung hangat di Cape Town, Afrika Selatan, pada Kamis (17/9/2026) tersebut menjadi ajang penting untuk memperkuat sinergi bilateral kedua negara anggota G20 dan BRICS ini.
Acara tersebut dihadiri langsung oleh Western Cape Minister of Mobility, Hon. Isaac Sileku, sebagai Tamu Kehormatan. Berbagai kalangan turut memadati ruangan, mulai dari konsul jenderal negara sahabat, pejabat pemerintah Western Cape, tokoh masyarakat, pemuka agama, pelaku bisnis, akademisi, hingga perwakilan media lokal seperti Voice of the Cape.
Merajut Sejarah Menjadi Kerja Sama Konkret
Dalam pidato pembukanya, Konsul Jenderal RI Cape Town, Tudiono, menegaskan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Afrika Selatan telah teruji oleh waktu. Sejak abad ke-17, jejak tokoh-tokoh Nusantara seperti Syekh Yusuf Al-Makassari, Tuan Guru, dan Dea Malela telah memberi warna mendalam pada warisan sosial-budaya masyarakat Cape.
“Kedekatan sejarah dan budaya ini tidak boleh berhenti sebagai nostalgia. Kita harus terus menerjemahkannya menjadi kerja sama nyata di bidang perdagangan, investasi, pariwisata, pendidikan, hingga konektivitas,” tegas Tudiono.
Sebagai satu-satunya Mitra Strategis Indonesia di Benua Afrika, Afrika Selatan memegang peran sentral dalam memperkuat poros kemitraan Global South. Apresiasi tinggi juga disampaikan oleh Hon. Isaac Sileku yang memuji peran historis Indonesia dalam memimpin perlawanan terhadap kolonialisme melalui Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955.
Sileku menilai, fondasi perjuangan bersama tersebut kini semakin kukuh pascakunjungan kenegaraan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa ke Indonesia pada Oktober 2025 lalu. Kunjungan strategis tersebut terbukti telah membuka pintu kerja sama yang lebih luas di sektor perdagangan, pertanian, hingga pertahanan.
Gema Budaya Nusantara dan Diplomasi Antarmasyarakat
Malam resepsi diplomatik kian semarak dengan hadirnya beragam pertunjukan seni budaya Nusantara. Gemuruh tepuk tangan tamu undangan membahana saat Sanggar Tari EAON membawakan Tari Saman asal Aceh secara presisi dan energik. Menariknya, sanggar tari ini dibina langsung oleh alumni penerima Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI), yang menjadi bukti nyata keberlanjutan diplomasi budaya (soft diplomacy) Indonesia di Afrika Selatan.
Keanggunan budaya Nusantara semakin terpancar lewat penampilan Tari Lenggang Nyai khas Betawi yang dibawakan oleh Aira Sherasati Tudiono, serta alunan dan gerak ritmis Dendang Mangkasara dari Makassar.
Diplomasi antarmasyarakat (people-to-people contact) di wilayah Cape Town memang terus bergulir dinamis. KJRI Cape Town secara konsisten menghadirkan program pembelajaran Bahasa Indonesia yang kini telah memasuki angkatan kesembilan, serta rutin menggelar agenda tahunan seperti Indonesian Folk Market dan Indonesian Film Festival.
Di sektor riil, penetrasi produk-produk Indonesia dan ragam kuliner Nusantara kini kian diterima oleh warga Western Cape. Perkembangan positif ini berbanding lurus dengan meningkatnya arus wisatawan asal Afrika Selatan yang berkunjung ke Indonesia.
Rangkaian Resepsi Diplomatik HUT ke-81 RI ini menjadi penegas komitmen kedua pihak untuk terus melangkah bersama. Hubungan Indonesia dan Afrika Selatan kini merefleksikan nilai utama: dibentuk oleh sejarah, diperkuat oleh masyarakatnya, serta digerakkan oleh peluang masa depan bersama.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post