PARIS — Gelombang unjuk rasa menentang lonjakan biaya hidup di Prancis berubah menjadi aksi anarkistis pada Sabtu waktu setempat. Jantung kota Paris lumpuh setelah massa penjarah membobol dan merusak pertokoan di sepanjang pusat ibu kota tanpa perlawanan berarti dari aparat keamanan, memperkeruh situasi politik menjelang pemilihan presiden enam bulan mendatang.
Ratusan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis. Aksi yang awalnya dipicu oleh protes mahasiswa selama puluhan minggu ini membengkak menjadi kemarahan publik yang meluas. Di tengah kerumunan, kelompok pemuda bertopeng dan berjaket hitam tampak membongkar paksa pintu besi pertokoan, melalap habis isi rak mulai dari rokok, pakaian, kacamata hitam, perhiasan, hingga bahan makanan.
Penjarahan Masif di Pusat Kota Paris
Kondisi di lapangan menggambarkan kekacauan yang terstruktur. Sejumlah penjarah terlihat keluar dari gerai supermarket membawa kantong-kantong penuh berisi makanan, minuman kemasan, dan alkohol. Tak jauh dari lokasi tersebut, sebuah toko perhiasan antik turut menjadi sasaran pembobolan, di mana jam-jam dinding antik dan etalase kacamata raib dalam hitungan menit.
Para pelaku penjarahan juga merusak mesin kasir di dalam toko-toko yang mereka serobot, mencari uang tunai sebelum meninggalkan lokasi yang hancur berantakan. Di kawasan ikonik Place de la Republique, pecahan kaca dan puing-puing bangunan berserakan di jalan raya, sementara tumpukan sepeda yang dibakar membumbung tinggi mengeluarkan asap hitam pekat.
Aparat kepolisian setempat yang sebelumnya terlibat bentrokan di kawasan tersebut sempat tidak terlihat di lokasi saat aksi penjarahan berlangsung, sebelum akhirnya menerjunkan gas air mata dan meriam air (water cannon) untuk memecah konsentrasi massa yang melemparkan kembang api serta proyektil.
Respons Pemerintah dan Eskalasi Korban
Pemerintah Prancis merespons tegas gelombang kerusuhan ini. Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengecam keras aksi brutal tersebut dan menyebutnya sebagai “kekerasan dengan intensitas yang sangat ekstrem”.
Hingga Sabtu malam, pemerintah mengonfirmasi dampak dari bentrokan skala nasional tersebut:
- 1.200 orang pengunjuk rasa dan pelaku kerusuhan telah ditangkap oleh pihak kepolisian.
- Sedikitnya 150 personel kepolisian mengalami luka-luka akibat bentrokan hebat.
- Estimasi jumlah peserta aksi mencapai 550.000 orang menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, sementara serikat buruh CGT mengklaim angka partisipasi menembus 800.000 orang.
Wali Kota Paris Emmanuel Gregoire menyatakan bahwa deretan kawasan pertokoan di ibu kota “rusak parah”. Ia menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga hak konstitusional warga untuk menyampaikan pendapat, namun mengecam keras tindakan anarkis yang merusak fasilitas publik dan bisnis warga.
Penyebab Ketegangan dan Pembelahan Suara Warga
Kerusuhan ini menyingkap ketimpangan sosial dan kekecewaan mendalam masyarakat terhadap situasi ekonomi domestik. Beberapa warga lokal menyuarakan pandangan yang terbelah atas peristiwa traumatis ini. Alma, seorang guru seni berusia 38 tahun yang berada di lokasi, mengaku terkejut namun memahami akar kemarahan massa.
“Saya belum pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya. Saya paham mengapa masyarakat begitu marah. Menurut saya, merusak properti masih bisa dipahami sejauh tidak melukai siapapun secara fisik,” ujar Alma yang sebelumnya gagal menembus barikade menuju Istana Presidensial Élysée.
Di sisi lain, pandangan kritis disampaikan oleh Jules, seorang pegawai negeri sipil berusia 29 tahun. Ia menilai aksi brutal ini justru mengaburkan tuntutan utama para demonstran terkait kesejahteraan sosial.
“Kemarahan mereka sangat mendalam, mereka adalah bagian dari masyarakat yang merasa tidak terintegrasi. Namun, aksi penjarahan ini justru menghancurkan tujuan mereka sendiri. Lihat saja kondisi jalanan sekarang,” tutur Jules.
Meskipun aksi perusakan melanda fasilitas komersial ritel, sejumlah restoran, hotel, dan kawasan pemukiman warga sebagian besar terhindar dari sasaran amuk massa. Pemandangan kontras pun terlihat di beberapa sudut kota, di mana sebagian warga Paris tetap melanjutkan aktivitas makan siang akhir pekan di area teras kafe saat kerusuhan hebat terjadi di jalan-jalan utama.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post