BEIJING — Sebuah inovasi medis baru berhasil dikembangkan untuk mendeteksi penyakit jantung rematik sejak dini. Tim peneliti dari Universitas Ben-Gurion Negev menciptakan teknologi deteksi yang tidak hanya sederhana dan berbiaya murah, tetapi juga berpotensi membuka akses layanan kesehatan yang lebih luas di wilayah-wilayah terpencil.
Inovasi yang telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ACS Sensors ini diproyeksikan dapat menjadi solusi efektif bagi kawasan yang memiliki keterbatasan sumber daya medis dan fasilitas kesehatan modern.
Mekanisme Kerja Berbasis Polimer
Teknologi pemindaian ini memanfaatkan material polimer khusus untuk mendeteksi penanda biologis tertentu (biomarker) yang ada di dalam sampel darah pasien. Saat penanda penyakit jantung rematik terdeteksi, polimer tersebut akan bereaksi dengan memancarkan sinyal cahaya.
Sinyal cahaya yang dihasilkan kemudian dapat diukur dan dianalisis menggunakan peralatan laboratorium dasar. Hal ini membuat proses pengujian tidak lagi memerlukan perangkat medis berteknologi tinggi yang mahal dan rumit.
Solusi Deteksi Dini di Negara Berkembang
Penyakit jantung rematik sendiri umumnya dipicu oleh infeksi radang tenggorokan akibat bakteri Streptococcus yang tidak mendapat penanganan medis secara tuntas. Dampaknya, sistem kekebalan tubuh memberikan respons keliru yang menyebabkan kerusakan permanen pada katup jantung.
Hingga saat ini, penyakit jantung rematik masih menjadi salah satu ancaman kesehatan serius serta penyumbang angka kesakitan dan kematian tertinggi di kalangan usia muda, khususnya di negara-negara berkembang.
Selain fokus pada penyakit jantung rematik, para peneliti mengungkapkan bahwa fleksibilitas teknologi berbasis polimer ini juga memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut guna mendeteksi berbagai jenis penyakit berbahaya lainnya di masa depan.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post