Pasar layanan pesan-antar makanan digital di India yang selama ini dikuasai secara cengkeram oleh duet Zomato dan Swiggy kini berada di ambang guncangan hebat. Raksasa e-commerce milik Walmart, Flipkart, secara resmi bersiap mendobrak duopoli tersebut dengan menguji coba layanan pengiriman makanan mandiri. Langkah berani ini diambil di tengah lanskap kompetisi sengit yang sebelumnya bahkan sempat memakan korban nama-nama besar sekelas Amazon dan Google.
Ekspansi Flipkart tidak sekadar uji coba tanpa arah. Mengandalkan ekosistem logistik yang solid dan penetrasi pasar yang masif, raksasa teknologi yang berbasis di Bengaluru ini berpotensi mengubah peta kekuatan ekonomi digital di negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia tersebut.
Strategi Kuda Troya: Menguji Pasar Lewat Ekosistem Internal
Berdasarkan sumber internal yang memahami dinamika perusahaan, Flipkart telah memperluas tahap uji coba internalnya secara signifikan. Dari yang semula hanya melibatkan beberapa ratus karyawan, kini layanan tersebut sudah diuji oleh lebih dari 8.000 karyawan. Tak hanya itu, Flipkart juga telah menyiagakan armada pengantar khusus di bawah naungan unit logistiknya, Ekart. Armada ini terpisah dari kurir yang menangani pengiriman belanjaan instan (quick commerce), sebagai bentuk persiapan matang menjelang peluncuran resmi ke publik.
Di dalam aplikasi utama Flipkart, fitur anyar ini hadir dalam tab terpisah berdampingan dengan layanan belanja instan ‘Minutes’ dan pemesanan tiket perjalanan. Fitur yang mengusung branding “Eat-in by Minutes” ini mengintegrasikan ribuan restoran melalui kerja sama langsung serta pemanfaatan jaringan ONDC (Open Network for Digital Commerce)—sebuah protokol komersial digital yang disokong oleh pemerintah India untuk mengikis dominasi platform tunggal.
Pertumbuhan Industri dan Potensi Pasar yang Menggiurkan
Langkah manuver Flipkart masuk ke sektor ini didorong oleh pertumbuhan industri yang sangat menggiurkan. Data dari lembaga riset finansial Bernstein memperkirakan industri pesan-antar makanan di India tumbuh pesat sebesar 18% hingga 20% per tahun. Kendati demikian, penetrasi pengiriman makanan secara daring saat ini baru menyerap sekitar 15% dari total industri jasa boga di India.
Saat ini, duopoli Zomato dan Swiggy diperkirakan menguasai basis konsumen aktif mencapai 85 juta hingga 95 juta pengguna berbayar per tahun. Angka ini di satu sisi menunjukkan betapa kuatnya cengkeraman kedua pemain utama tersebut, namun di sisi lain memperlihatkan ruang pertumbuhan yang masih sangat luas bagi pemain baru, mengingat India memiliki lebih dari satu miliar pelanggan internet aktif.
Perlawanan atas Pungutan Komisi Tinggi
Kehadiran Flipkart disambut hangat oleh para pelaku bisnis kuliner lokal yang selama ini tertekan oleh tingginya komisi platform. Sagar Daryani, Presiden National Restaurant Association of India (NRAI) yang menaungi lebih dari 500.000 restoran, menyuarakan kekecewaannya terhadap struktur pasar saat ini.
“Monopoli itu buruk, tetapi duopoli jauh lebih memprihatinkan. Apa yang dilakukan oleh satu pemain, pasti akan diikuti oleh pemain lainnya,” tegas Daryani, menekankan pentingnya alternatif platform bagi keberlanjutan bisnis restoran.
Flipkart menawarkan angin segar dengan memotong struktur biaya secara drastis. Jika Zomato dan Swiggy umumnya mengenakan komisi sebesar 20% hingga 25% per pesanan, Flipkart menawarkan komisi dasar yang jauh lebih rendah, yakni di kisaran 10%.
Jika dihitung secara keseluruhan—termasuk biaya iklan, promosi, dan potongan harga—restoran selama ini bisa kehilangan 40% hingga 50% dari nilai transaksi pada platform lama. Flipkart diproyeksikan mampu memangkas total akumulasi biaya tersebut menjadi hanya 15% hingga 16%, sebuah margin yang secara signifikan dapat meningkatkan profitabilitas para pemilik restoran.
Peta Persaingan dan Tantangan Sejarah
Membedah riwayat kompetisi di pasar India, Flipkart bukanlah perusahaan berkantong tebal pertama yang mencoba merobohkan dominasi Zomato dan Swiggy. Sejarah mencatat sejumlah kegagalan tragis dari para pemain global:
- Amazon Food: Meluncurkan layanan pada 2020 di Bengaluru, namun terpaksa gulung tikar dua tahun kemudian akibat gagal mencapai skala ekonomis.
- Google Areo: Aplikasi integrasi pengiriman makanan dan layanan rumah tangga milik Google yang akhirnya dihentikan karena minimnya traksi pasar.
- Uber Eats: Menyerah dari pasar India pada tahun 2020 dan menjual seluruh aset operasinya kepada Zomato senilai USD 206 juta.
Meski demikian, terdapat perbedaan mendasar dalam pendekatan strategis Flipkart. Jika Zomato dan Swiggy membangun bisnis dari pengiriman makanan sebelum berekspansi ke quick commerce, Flipkart mengambil arah sebaliknya. Perusahaan menggunakan fondasi kuat dari bisnis e-commerce dan infrastruktur quick commerce yang sudah matang sebagai batu loncatan untuk masuk ke rantai pasok kuliner.
Pendekatan terbalik ini dinilai akan menghasilkan efisiensi operasional yang jauh lebih tinggi dan struktur biaya yang lebih ramping (leaner).
Langkah Lanjutan dan Ambisi Nasional
Di luar Flipkart, peta persaingan juga makin ramai dengan hadirnya platform penyedia jasa transportasi Rapido yang tengah menguji coba layanan pesan-antar makanan bebas komisi bernama Ownly. Sementara itu, Swiggy mencoba bertahan dengan merilis aplikasi Toing untuk menggaet konsumen beranggaran terbatas.
Tak ingin berlama-lama di tahap uji coba di kota Bengaluru, Flipkart mengarahkan bidikannya untuk meluncurkan layanan ini secara publik pada akhir Oktober, dengan target perluasan cakupan ke lima hingga enam kota besar di India pada akhir tahun ini.
Ekspansi agresif ini juga terjadi di tengah ketidakpastian rencana penawaran umum perdana (IPO) Flipkart. CEO Flipkart, Kalyan Krishnamurthy, memilih fokus memperkuat keterikatan ekosistem aplikasi (user engagement) dengan menghadirkan beragam layanan harian. Di tengah batas antara perdagangan cepat dan logistik makanan yang

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.










Discussion about this post