Ekonom senior sekaligus Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Didik J. Rachbini, menegaskan bahwa pemerintah harus segera merombak strategi ekonomi nasional jika ingin mengejar target pertumbuhan di kisaran 7 hingga 8 persen. Pola kebijakan yang bersifat business as usual dinilai tidak akan sanggup membawa Indonesia keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi yang stagnan di level 5 persen.
Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 mencatatkan angka 5,29 persen, Didik menilai capaian positif tersebut belum memadai untuk merealisasikan lompatan ekonomi nasional secara signifikan. Menurutnya, percepatan laju ekonomi hanya bisa dicapai apabila sektor industri manufaktur mampu tumbuh jauh lebih tinggi melebihi rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Reorientasi Strategi melalui Industrialisasi dan Investasi Berkualitas
Didik menyoroti pentingnya mengembalikan industrialisasi sebagai pilar utama pembangunan ekonomi nasional. Langkah ini harus ditopang oleh investasi produktif, peningkatan ekspor manufaktur, penyerapan teknologi, serta penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global (global supply chain).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa fokus pemerintah tidak boleh hanya tergiur pada kuantitas atau nilai investasi yang besar, melainkan harus mengutamakan kualitas investasi itu sendiri.
“Investasi yang kita butuhkan bukan semata-mata investasi dalam jumlah besar, melainkan investasi berkualitas: yang memperkuat basis industri, menciptakan pekerjaan produktif, mendorong transfer teknologi, dan meningkatkan kemampuan ekspor nasional,” tegas Didik J. Rachbini dalam keterangan resminya, Selasa (20/10/2026).
Belajar dari Deregulasi Era 1980-an dan Reformasi Struktural
Sebagai bahan evaluasi kebijakan, Didik mengingatkan keberhasilan pemerintah pada dekade 1980-an yang gencar melakukan deregulasi dan debirokratisasi. Langkah historis tersebut terbukti ampuh memangkas regulasi yang berbelit, memperluas ruang masuknya modal, serta memacu kinerja ekspor manufaktur nasional.
Guna mengulang momentum sukses tersebut, ia mendesak pemerintah segera mengeksekusi reformasi struktural secara menyeluruh. Pengurangan hingga penghapusan berbagai hambatan usaha menjadi syarat mutlak agar sektor industri dapat kembali menjalankan perannya sebagai mesin penggerak utama (engine of growth) perekonomian Indonesia.
Dengan pemangkasan iklim usaha yang kondusif dan penciptaan kepastian hukum, dunia usaha diyakini akan memiliki ruang gerak yang lebih fleksibel untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing produk lokal di pasar global.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post