Keabadian Kota Abadi dalam Panggung Mode Milan
Roma bukan sekadar kota, melainkan sebuah gagasan tentang keabadian yang tak pernah usai. Spirit inilah yang diusung oleh Lavinia Biagiotti Cigna saat memamerkan koleksi busana wanita terbarunya untuk musim semi/panas (Spring/Summer) 2027 di ajang Milan Fashion Week. Mengambil tempat di Piccolo Teatro yang ikonik, rumah mode Laura Biagiotti menyajikan panggung runway yang bukan hanya merayakan keindahan estetika, melainkan juga merajut narasi filosofis tentang busana yang tak lekang oleh waktu.
“Saya tidak menginginkan mode yang cepat usang. Seperti halnya Roma, pakaian seharusnya tak pernah berhenti untuk nyaman dikenakan. Garis rancangannya tidak boleh cepat terlihat tua, melainkan harus terus menemani perjalanan hidup perempuan dengan keindahannya,” ungkap Lavinia dengan penuh keyakinan. Sejak memegang kendali kreativitas usai kepergian sang ibu pada tahun 2017, sang desainer terus merawat warisan estetika rumah mode asal Roma tersebut dengan sentuhan modern yang amat memikat.
Pertemuan Dua Kota: Harmoni Gerak Seni Tari dan Siluet Arsitektural
Sebagai bentuk penghormatan bagi dua kota penting dalam hidupnya, panggung peragaan dibuka dengan kolaborasi seni yang puitis. Langkah kaki yang ringan dan anggun dari Eleonora Abbagnato, bintang tari internasional sekaligus direktur Corps de Ballet dari Rome Opera House, menyatu dalam koreografi indah bersama Timofej Andrijashenko, penari utama dari Teatro alla Scala Milan. Tarian mereka menjadi jembatan visual yang menyatukan romantisme Roma dan dinamika mode Milan.
Untuk koleksi busana harian (daywear), Lavinia menghadirkan rancangan berkarakter arsitektural yang cenderung minimalis namun tetap cair. Pendekatan ini diwujudkan melalui permainan layering yang nyaman dan tidak mengekang tubuh. Jajaran sheath dress yang presisi, setelan jas bergaris tegas, gilet beragam proporsi, serta siluet yang dipanjangkan memberikan kesan ramping dan elegan bagi wanita modern.
Kekakuan garis rancangan tersebut kemudian diimbangi dengan sentuhan material transparan, tumpukan kain yang lembut, serta detail tak terduga. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah luaran bolero beraksen ‘bulu’ yang terbuat dari potongan kain sifon yang sangat halus dan presisi. Motif cetak pada koleksi ini juga membawa memori sentimental, terinspirasi dari koleksi kartu pos kuno kota Roma yang dulu sering dibagikan Lavinia bersama mendiang ibunya, serta motif floral yang mengadopsi keindahan mawar dari Muncipal Rose Garden di Aventine.
Spektrum Warna Roma dan Kemewahan Busana Rajut
Palet warna yang dituangkan ke atas panggung pameran bagaikan lukisan lanskap kota Roma dari fajar hingga malam hari. Nuansa putih dan gading merepresentasikan cahaya pagi, merah muda menggambarkan rona subuh, sedangkan warna oranye hangat mengabadikan momen matahari terbenam. Warna abu-abu dan biru pucat mengadopsi rona langit serta batuan traversin khas bangunan sejarah Romawi.
Saat melangkah ke sesi busana malam (eveningwear), palet warna bergeser menjadi lebih lembut dan berkelas. Rona powder pink, antique rose, koral, abu-abu mutiara, hingga biru muda membalut gaun-gaun panjang yang melayang ringan. Material yang tembus pandang, sulaman murni, hingga aplikasi motif yang dijahit cermat mengalir mengikuti lekuk tubuh tanpa memberi rasa terkekang. Gaun ikonik ‘doll dress’ khas Laura Biagiotti pun tampil segar dalam balutan warna merah muda yang manis.
Sebagai keahlian utama rumah mode ini, lini busana rajut (knitwear) kembali menjadi bintang utama. Lavinia menyuntikkan kilau benang lurex dan sequin mikro yang memantulkan cahaya bagaikan langit malam berhias bintang. Kilau ini berpadu serasi dengan tekstur batuan marmer gereja-gereja Barok. “Bagi saya, gaun rajut adalah karya yang mendasar. Busana ini bersifat one-size dan cocok untuk segala usia,” tuturnya.
Cinta yang Terukir dari Aksesori Hingga Suasana Runway
Kecintaan pada Kota Abadi tidak hanya terlihat dari helai-helai busana, tetapi juga meresap hingga ke detail latar musik dan aksesori. Lagu-lagu berlatar tema Roma mengalun sepanjang peragaan, mulai dari karya Bon Entendeur, band asal Australia Dojo Cuts, hingga tematik klasik ‘Rome Wasn’t Built in a Day’ dari Morcheeba. Detail perhiasan pun tampil jenaka sekaligus puitis melalui anting-anting berhuruf yang membentuk kata ‘AMOR’, yang jika dibalik akan terbaca ‘ROMA’.
Kehangatan narasi ini berlanjut hingga akhir acara di luar area Piccolo Teatro. Lavinia, yang dikenal dengan keramahan dan keanggunannya, menyiapkan kedai bunga kecil yang dipenuhi mawar putih—bunga favorit sang ibu. Ia membagikan bunga segar tersebut kepada para tamu perempuan, lengkap dengan kartu pos bergambar Roma untuk dikirimkan ke seluruh penjuru dunia. Hari itu, di tengah hiruk-pikuk Milan sebagai pusat mode dunia, Lavinia berhasil mempersembahkan sepotong keindahan Roma yang abadi dan penuh cinta.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post