Langkah restrukturisasi aset raksasa telekomunikasi Tanah Air, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), memasuki babak baru. Anak perusahaannya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia), kini resmi mengelola hingga 90% aset infrastruktur jaringan milik TelkomGroup. Pengalihan ini menandai rampungnya proses pemisahan aset dan bisnis (spin-off) unit wholesale fiber connectivity (InfraCo) tahap kedua dengan nilai transaksi fantastis mencapai Rp49,9 triliun.
Transaksi jumbo yang tuntas pada akhir September 2026 tersebut melengkapi pemisahan aset tahap pertama sebelumnya sebesar Rp35,8 triliun. Secara kumulatif, total nilai pemisahan aset jaringan dari emiten berkode TLKM ke InfraNexia ini menembus angka Rp85,7 triliun.
Optimalisasi Aset Jaringan Serat Optik Nasional
Melalui konsolidasi ini, InfraNexia memegang kendali atas bentangan infrastruktur digital yang sangat vital di Indonesia. Portofolio aset yang dikelola kini mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic, di mana 26.000 kilometer di antaranya merupakan jaringan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik.
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, menegaskan bahwa pembentukan dan penguatan InfraNexia bertujuan untuk mempertajam fokus bisnis serta memacu produktivitas aset infrastruktur secara optimal. Strategi ini diproyeksikan mampu mendongkrak kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup.
“Dengan skala dan fokus yang semakin solid, InfraNexia diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri. Langkah strategis ini adalah bagian dari upaya TelkomGroup membangun bisnis agar lebih fokus, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai tambah (value creation) yang jauh lebih besar dari tiap aset strategis yang dimiliki,” ujar Nanang dalam keterangannya.
Memperluas Pemanfaatan Jaringan untuk Ekosistem Digital
Dari sudut pandang pengembangan portofolio, Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, mengungkapkan bahwa pemisahan unit bisnis ini memberikan ruang gerak yang lebih lincah bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan serta memperluas kemitraan strategis.
“Skala infrastruktur yang semakin besar memberi kami fleksibilitas untuk menghadirkan solusi yang relevan bagi berbagai kebutuhan pelanggan. Fokus kami bukan hanya memperluas pemanfaatan aset, tetapi memastikan infrastruktur ini menjadi fondasi bagi pertumbuhan mitra, memperkuat layanan digital, dan mendukung kedaulatan digital Indonesia,” kata Seno.
Pilar Utama Konektivitas Digital Indonesia
Pasca-konsolidasi, operasional InfraNexia didukung oleh struktur organisasi yang mencakup 4 area, 12 regional, dan 61 distrik di seluruh Indonesia. Jangkauan jaringan darat dan laut yang ekstensif ini diposisikan sebagai tulang punggung (backbone) bagi berbagai pihak di industri telekomunikasi dan teknologi.
Jaringan infrastruktur terintegrasi tersebut kini siap diakses secara lebih terbuka oleh operator telekomunikasi, penyedia jasa internet (ISP), penyedia layanan cloud, pengelola pusat data (data center), hingga berbagai pelaku industri digital lainnya yang membutuhkan peningkatan kapasitas dan ekspansi jangkauan konektivitas di Tanah Air.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post