Bagaimana mungkin seseorang yang mengenakan busana rancangan Chanel dari ujung kepala hingga kaki, bahkan tidak memiliki cukup uang untuk sekadar membeli segelas bir di bar malam itu? Paradoks yang menghentak ini menjadi pemantik bagi antropolog Giulia Mensitieri untuk menguliti sisi kelam industri mode global. Lewat riset mendalam selama 15 tahun, ia menyingkap realitas eksploitasi dan kerentanan kerja di balik gemerlap panggung runway dalam karya terbarunya, “Fashion: The Most Beautiful Job in the World”.
Karya ilmiah yang dialihwahhanakan menjadi novel grafis apik hasil kolaborasi dengan ilustrator Danicollaterale ini, menyajikan narasi visual yang kuat sekaligus getir. Di balik keindahan gaun-gaun haute couture bernilai miliaran rupiah, tersimpan keringat dan jam kerja tanpa batas dari para pekerja kreatif yang tak kasat mata.
Ilusi Kemewahan di Balik Dinding Studio Paris
Bayangkan sebuah pemandangan yang menyesakkan: belasan perempuan bekerja tanpa kenal lelah sepanjang malam di sebuah apartemen sempit di sudut kota Paris. Mereka berkumpul mengitari selembar kain yang dalam hitungan jam harus menjelma menjadi gaun adibusana bernilai €70.000 hingga €100.000 (sekitar 1,1 hingga 1,6 miliar rupiah). Ironisnya, setelah fajar menyingsing, masing-masing dari mereka hanya pulang membawa amplop berisi upah tunai yang tidak lebih tinggi dari standar upah minimum per jam.
Para pekerja di balik layar ini—yang kerap dijuluki “little hands” atau tangan-tangan terampil penyelamat adibusana—terdiri dari berbagai latar belakang. Mulai dari mahasiswa mode, buruh pabrik, imigran asal Asia, hingga penjahit profesional yang sengaja didatangkan sebagai tenaga bantuan ekstra saat tensi kerja menjelang Fashion Week mencapai puncaknya.
Sektor mode dan pakaian sendiri menyumbang lebih dari 3% PDB Prancis—bahkan melampaui industri otomotif—dan menghidupi hampir satu juta orang. Namun, industri ini tetap menjadi salah satu sektor yang paling minim dokumentasi dan pengawasan ketenagakerjaannya.
Sistem Upah Berbasis Prestise dan Lingkaran Setan
Industri mode adalah dunia yang sangat terekspos; wajahnya berseliweran di majalah, papan reklame, hingga media sosial. Namun, publik sebenarnya hampir tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di balik layar. Akses riset ini berhasil terbuka justru karena hasrat industri mode akan “legitimasi intelektual”—sebuah lingkungan yang sering dianggap remeh namun merasa tersanjung ketika mendapat perhatian dari seorang antropolog.
Salah satu realitas ekonomi yang berhasil diungkap adalah “lingkaran setan utang” yang menjerat para model. Sudah menjadi rahasia umum bahwa agensi-agensi besar sering kali menalangi semua biaya hidup model—mulai dari penataan rambut hingga ongkos taksi—lalu menuntut penggantian biaya yang sering kali mustahil untuk dilunasi oleh para model pemula.
Selain itu, berlaku pula sistem “upah berbasis prestise”. Semakin bergengsi nama sebuah majalah mode, semakin besar kemungkinan para pekerja kreatif di dalamnya tidak dibayar. Lembaran editorial mode yang megah di majalah-majalah ternama sering kali diproduksi secara cuma-cuma atas nama portofolio.
Bahkan, beberapa fotografer rela merogoh kocek pribadi untuk membiayai akomodasi tim, menyewa kendaraan, dan menanggung konsumsi demi bisa terlibat dalam proyek prestisius yang mereka anggap sebagai “investasi karier”. Sebagian lainnya hanya dibayar menggunakan sistem barter berupa voucer belanja dari label mode terkait, sebuah praktik yang tentu saja memberikan keuntungan ganda bagi sang jenama.
Suara-Suara yang Dibungkam dalam Sunyi
Ada sebuah anomali yang sangat kontras ketika seorang pemimpin redaksi yang menjinjing tas mewah seharga €20.000 menyerahkan amplop berisi uang €100 kepada seorang fotografer untuk kerja keras selama 48 jam, sembari berbisik: “Kamu beruntung bisa terlibat di sini.” Kalimat intimidatif berbalut kesempatan emas inilah yang kemudian menginspirasi penelitian mendalam ini.
Industri mode memiliki cara kerja dan bentuk kekerasan spesifiknya sendiri. Kekerasan ini terletak pada koeksistensi yang ekstrem antara dunia yang sangat mewah dengan sistem pengupahan dan eksploitasi kerja yang sangat timpang. Situasi ini diperparah dengan absennya serikat pekerja yang kuat di luar organisasi pengusaha.
Ini adalah lingkungan kerja yang menuntut kesempurnaan visual, sehingga tidak ada ruang bagi pekerjanya untuk mengeluh lelah, mengalami burnout, atau mengakui bahwa mereka tidak memiliki uang untuk membayar sewa tempat tinggal karena honor yang belum cair selama berbulan-bulan.
Bagi para pencinta mode dan generasi muda yang terpikat oleh gemerlap industri ini, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: nikmati keindahan dan glamornya, namun mulailah peduli dan pahami apa yang menjadi hak-hak Anda sebagai pekerja kreatif. Mode harus tetap menjadi ruang ekspresi yang indah, baik di atas panggung runway maupun di dalam ruang-ruang produksinya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post