Menembus Sunyi Tujuh Tahun: Kembalinya ZZUF dengan Energi Baru
Ada kalanya sebuah band memilih untuk menepi, bersembunyi di balik bayang-bayang, bukan untuk mati suri, melainkan untuk mengumpulkan amunisi. Setelah terakhir kali merilis album penuh pada 2017 silam, unit indie rock/alternative ZZUF akhirnya resmi mengakhiri masa hiatus panjang mereka. Mereka kembali menyapa telinga pendengar lewat kantung album penuh kedua yang diberi tajuk self-titled, Zzuf.
Kembalinya mereka sebenarnya bukan kejutan yang tiba-tiba. Sejak awal tahun, ZZUF telah menebar remah-remah petunjuk lewat perilisan dua single pembuka yang cukup mencuri perhatian, yaitu “Meja Hari Ini” dan “I Smile”. Namun, menyajikan 15 nomor sekaligus dalam album teranyar ini adalah sebuah pernyataan sikap yang berani di tengah era industri musik digital yang kini lebih ramah terhadap rilisan single pendek.
Kolaborasi Lintas Batas dan Sentuhan Magis Para Sahabat
Eksplorasi menjadi kata kunci utama dalam album Zzuf. Tidak ingin terjebak dalam formula usang masa lalu, mereka membuka ruang kolaborasi yang sangat lebar dengan mengajak beberapa nama penting di kancah musik independen. Salah satu yang paling mencolok adalah kehadiran Delpi Suhariyanto, otak di balik unit punk Dongker yang juga dikenal lewat proyek solonya, softtrauma. Di lagu “I Smile”, Delpi tidak hanya menyumbangkan vokal berkarakter, tetapi juga turut andil sebagai penulis lirik.
Tidak berhenti di situ, ZZUF bahkan melompati batas negara dengan menggaet musisi asal Jepang, Deathro, untuk mengisi trek keenam yang berjudul “Sagamihara”. Lagu ini memiliki nuansa megah nan energetik layaknya sebuah soundtrack anime klasik. Kehadiran Deathro terasa sangat organik, terlebih judul lagu ini diambil dari tempat yang memiliki kedekatan emosional bagi sang kolaborator saat menulis liriknya.
Sentuhan manis lainnya hadir lewat kolaborasi bersama grup band After Hours dalam lagu “Signing Out”. Keputusan ini bermula dari intuisi Pandu Fuzztoni yang merasa lagu tersebut membutuhkan sentuhan vokal perempuan untuk memperkuat departemen estetika suaranya. Hubungan baik yang terjalin sejak Pandu menggarap proses mixing dan mastering karya After Hours sebelumnya, menjadi jembatan mulus bagi kolaborasi apik ini.
Eksperimen Berani: Dari Brass Section hingga Estetika Anime 90-an
Secara musikalitas, album kedua ini menjadi taman bermain baru bagi ZZUF. Salah satu eksperimen paling radikal yang mereka lakukan adalah menyuntikkan unsur instrumen tiup alias brass section ke dalam beberapa nomor di album ini. Sebuah keputusan artistik yang belum pernah mereka jamah sebelumnya, namun terbukti sukses memberikan dimensi suara yang lebih megah, dinamis, dan segar pada fase baru perjalanan bermusik mereka.
Aspek visual album ini pun digarap dengan konsep yang sangat matang. Sampul album Zzuf dikerjakan oleh seorang ilustrator berbakat bernama Thalia. Dikenal dengan goresan tangannya yang kental dengan estetika anime era 90-an, karya Thalia di album ini tidak sekadar menjadi pemanis visual di layanan streaming musik, melainkan representasi sempurna dari nostalgia dan energi musik yang ingin disampaikan oleh ZZUF.
Sebuah Manifesto Perjalanan Hidup
Melalui 15 lagu yang variatif, ZZUF tidak hanya sekadar merilis album, melainkan membagikan sebuah jurnal perjalanan spiritual dan musikal mereka selama beberapa tahun terakhir. Album self-titled ini menawarkan kesegaran yang relevan, sekaligus menjadi kawan perjalanan yang hangat bagi para pendengarnya.
Bagi Anda yang merindukan musik alternatif dengan penulisan lagu yang matang, eksploratif, namun tetap ramah di telinga, album kedua ZZUF adalah sebuah menu wajib yang siap menemani setiap fragmen keseharian Anda.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post