Platform penyuntingan video global, CapCut, menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan teknologi kreatif digital berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tanpa mengesampingkan kendali penuh para pengguna atas karya mereka. Komitmen strategis ini dipaparkan dalam ajang pameran teknologi kreatif CapCut World Singapore yang menghadirkan lebih dari 300 kreator konten, pelaku industri, dan tim pengembang di Singapura.
Global Head of CapCut, Xiaoqi Fu, menyatakan bahwa inovasi teknologi yang dihadirkan platformnya berfokus pada penyederhanaan alur kerja pembuatan video tanpa mereduksi independensi para pembuat konten dalam mengambil keputusan artistik.
“Sejak awal, CapCut berupaya menyederhanakan proses pembuatan video agar mudah dilakukan oleh lebih banyak orang. Berangkat dari fondasi tersebut, kami terus menyatukan lebih banyak tahapan dalam proses kreatif, mulai dari penyuntingan dan desain hingga berbagai fitur baru, dengan tetap memastikan kendali atas setiap keputusan kreatif berada di tangan pengguna,” ujar Xiaoqi Fu.
Filosofi Penyederhanaan dan Pertumbuhan Komunitas Global
Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2020, CapCut telah mengalami pertumbuhan ekosistem yang signifikan. Saat ini, platform penyuntingan video tersebut telah melayani lebih dari 660 juta pengguna yang tersebar di lebih dari 170 pasar global serta mendukung ketersediaan dalam 30 bahasa.
Pertumbuhan ekosistem ini didukung oleh keterlibatan aktif komunitas kreatif, yang kini mencatat lebih dari 6 juta kreator template. Komunitas ini secara konsisten memproduksi dan membagikan lebih dari 400 ribu template baru setiap harinya untuk dimanfaatkan oleh para pengguna di seluruh dunia.
Ajang CapCut World Singapore sendiri merupakan bagian dari rangkaian tur global yang diselenggarakan di Asia Tenggara, Amerika Serikat, dan Eropa guna mempertemukan para pembuat konten, memfasilitasi pertukaran teknik produksi, serta memperkenalkan alur kerja berbasis teknologi terkini.
Inovasi Fitur ‘Skills’ dan Akselerasi Teknologi AI
Dalam kesempatan tersebut, CapCut memperkenalkan inovasi fitur terbarunya bernama Skills. Fitur ini dirancang khusus untuk memungkinkan kreator menyimpan sekaligus membagikan gaya visual, teknik penyuntingan, dan alur kerja kustom yang mereka gunakan dalam sebuah proyek video.
Penerapan fitur ini dibuktikan oleh sineas Vee Camallere dalam pembuatan serial berbasis kecerdasan buatan bertajuk Featherweight yang sukses meraup lebih dari 25 juta penayangan. Vee memanfaatkan fitur Skills untuk mengunci dan menduplikasi teknik color grading agar konsistensi visual tetap terjaga sepanjang alur cerita.
“Ketika cerita dalam Featherweight beralih dari satu adegan ke adegan lainnya, saya dapat menggunakan skill yang telah disimpan sebelumnya agar tampilan visualnya tetap konsisten. Kemampuan yang ditawarkan fitur ini menjadikan proses color grading terasa jauh lebih efisien,” ungkap Vee Camallere.
Penguatan Ekosistem AI, Transparansi, dan Agenda Mendatang
Hingga tahun 2026, ekosistem CapCut telah dilengkapi lebih dari 85 fitur AI. Integrasi teknologi canggih ini telah mendorong lahirnya lebih dari 6 miliar kreasi orisinal berupa gambar, klip video, hingga efek visual dari para penggunanya.
Beberapa ekosistem utama berteknologi tinggi yang diperkenalkan meliputi AI Lab untuk eksplorasi ide kreatif, Infinite Canvas untuk penyusunan alur cerita dan karakter, serta Edit Pilot sebagai asisten penyuntingan otomatis. Platform ini juga mengintegrasikan sejumlah model pembelajaran mesin terkemuka, seperti Dreamina Seedance (video), Dola Seedream (gambar), dan Seed Audio (suara), yang terhubung langsung ke dalam Video Studio dan Design Studio.
Guna menjaga keaslian serta transparansi karya yang dihasilkan dari bantuan kecerdasan buatan, CapCut menerapkan sistem proteksi berupa invisible watermarks dan standar transparansi C2PA Content Credentials. Saat ini, tercatat lebih dari 7 juta kreator memanfaatkan fitur AI CapCut secara aktif setiap harinya.
Setelah kesuksesan gelaran di Singapura, rangkaian konferensi global CapCut World dijadwalkan akan melanjutkan perjalanannya ke dua kota pusat industri kreatif dunia, yaitu Los Angeles dan London pada akhir tahun 2026.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post