JAKARTA — Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) bergerak cepat menyiapkan strategi pemulihan ekosistem gambut dan mangrove secara komprehensif. Langkah strategis ini dirancang untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kelestarian lingkungan bagi masyarakat di sekitar kawasan ekosistem.
Kepala BPGMN, Satyawan Pudyatmoko, mengungkapkan bahwa prioritas utama lembaga yang dipimpinnya adalah mengembalikan fungsi alami lahan gambut yang rentan terbakar saat mengalami kekeringan. Kerentanan tersebut umumnya dipicu oleh pembukaan kanal yang mengalirkan air keluar, sehingga mengubah sifat alami gambut yang seharusnya basah dan lembap menjadi kering ekstrem, terutama saat musim kemarau.
Restorasi Tata Air dan Pembatasan Komoditas Non-Ramah Air
Sebagai langkah awal intervensi teknis, BPGMN akan memetakan seluruh jaringan kanal di kawasan gambut dan membangun sekat-sekat penahan air. Skema ini bertujuan untuk menjaga keterbasahan lahan gambut agar air tidak terbuang cepat ke laut, sehingga efisien meredam potensi karhutla sejak dini.
Di samping perbaikan tata air, pemulihan ekosistem juga dilakukan dengan mengintervensi pola tanam masyarakat. BPGMN mendorong pengalihan komoditas pertanian ke jenis tanaman yang ramah terhadap karakteristik air lahan gambut. Keterlibatan aktif warga lokal menjadi kunci agar mereka meninggalkan budidaya tanaman yang mengeksploitasi air secara berlebihan.
“Kami harus bekerja sama dengan masyarakat, mengaktifkan peran warga dalam mengelola gambut agar tidak lagi membudidayakan komoditas yang tidak ramah air,” tegas Satyawan.
Optimalisasi Potensi Ekonomi: Sagu, Perikanan, dan Ekowisata
Sejalan dengan upaya pemulihan ekologis, Wakil Kepala BPGMN, Mayjen TNI Sriyanto, menekankan pentingnya mengintegrasikan program restorasi dengan pengembangan ekonomi kerakyatan. Menurutnya, pemulihan lingkungan harus memberikan dampak finansial langsung bagi warga tanpa mengorbankan fungsi konservasi.
Untuk kawasan gambut, tanaman seperti sagu, jelutung, dan nanas dinilai sangat potensial untuk dikembangkan secara masif. Budidaya sagu khususnya, dianggap sangat ideal karena cocok dengan lahan basah serta mampu mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menciptakan mata pencaharian baru.
Sementara pada kawasan ekosistem mangrove, peluang ekonomi terfokus pada sektor perikanan berkelanjutan dan ekowisata. BPGMN mengarahkan agar pengembangan budidaya perikanan tidak lagi memicu konversi lahan atau pembukaan tambak yang merusak hutan mangrove.
Melalui integrasi antara pemulihan tata air, pemilihan komoditas ramah lingkungan, dan pengembangan jasa ekosistem ini, BPGMN optimistis dapat memitigasi bencana ekologis sekaligus menciptakan peluang nilai tambah ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post