Mengubah Kekayaan Budaya Menjadi Kekuatan Digital Masa Depan
Kemajuan suatu bangsa dewasa ini tidak lagi sekadar diukur dari seberapa canggih teknologi yang berhasil diciptakan. Lebih dari itu, indikator keberhasilan sebuah negara juga ditentukan oleh kemampuannya memperkenalkan kekayaan pengetahuan, akar budaya, serta pencapaian nasionalnya kepada publik secara interaktif, adaptif, dan bermakna.
Perspektif bernas tersebut disuarakan oleh akademisi dari Program Vokasi Universitas Indonesia, Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, saat melakukan kunjungan resmi ke National Centre di Moskow, Rusia. Kehadirannya di fasilitas prestisius tersebut merupakan bagian dari agenda sebagai pembicara dalam helatan internasional Global Digital Forum II 2026.
Forum tingkat dunia ini menjadi ruang bertemunya ribuan pakar dan pemangku kepentingan. Lebih dari 100 negara berpartisipasi, melibatkan lebih dari 1.000 pakar teknologi informasi, 50 pejabat setingkat menteri (VVIP), serta tidak kurang dari 50 perusahaan teknologi papan atas global.
Refleksi Pembelajaran Publik dari National Centre Moskow
Dalam kunjungannya, Devie mengamati secara mendalam konsep pameran modern yang diusung oleh National Centre. Lembaga yang dibentuk pada Juli 2024 ini lahir dari kesuksesan pameran-forum di VDNKh, yang sebelumnya berhasil menyedot perhatian hingga 18,5 juta pengunjung hanya dalam kurun waktu delapan bulan.
Pusat pameran dan pendidikan ini memamerkan keanekaragaman wilayah, sejarah, hingga potensi ekonomi melalui berbagai program tematik seperti “Journey Through Russia”. Bahkan, Rusia saat ini tengah membangun kompleks pameran permanen seluas 60.000 meter persegi di kawasan Moscow-City yang diproyeksikan selesai pada 2029 mendatang.
“Yang menarik dari National Centre Russia adalah upaya menghadirkan kekayaan sebuah bangsa dalam pengalaman yang dapat dipahami masyarakat. Kemajuan bukan hanya tentang apa yang berhasil dibangun negara, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat mengenal, memahami, dan mengambil inspirasi dari pencapaian tersebut,” ujar Devie Rahmawati.
Kecerdasan Buatan dan Pentingnya Sentuhan Kemanusiaan
Dalam sesi intinya di Global Digital Forum II 2026, Devie membawakan kertas kerja bertajuk “Can AI Speak Our Language Without Understanding Our Humanity?”. Ia menegaskan bahwa pengembangan Kecerdasan Buatan (AI) di era modern tidak boleh hanya berfokus pada peningkatan kapasitas komputasi atau pemrosesan data semata.
Menurutnya, teknologi AI masa depan wajib mampu memahami konteks bahasa lokal, kearifan budaya, serta nilai-nilai kemanusiaan tempat teknologi itu dioperasikan. Pendekatan pengelolaan pengetahuan yang diterapkan pada National Centre menjadi bukti konkret bahwa kekayaan budaya adalah aset pengetahuan yang sangat berharga untuk memperkaya inovasi digital.
“Data menyediakan informasi, budaya memberikan interpretasi, dan manusia menghadirkan makna. Karena itu, ketika sebuah negara memperkenalkan kekayaan wilayah dan budayanya, sesungguhnya negara tersebut juga sedang memperluas ruang pembelajaran bagi generasi berikutnya,” pungkas akademisi UI tersebut.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post