MALANG TODAY – Lebih dari 411.000 pelanggan mengalami dampak serius setelah sistem kelistrikan di wilayah Batam, Bintan, dan Tanjungpinang mengalami pemadaman total (blackout) pada Senin (12/10/2026) pagi. Di sejumlah wilayah Batam, pasokan listrik baru kembali pulih setelah belasan hingga puluhan jam, sementara sebagian kawasan di Kabupaten Bintan harus melewati masa kegelapan hingga hampir tiga hari.
Pemadaman listrik berkepanjangan ini melumpuhkan berbagai sektor kehidupan warga. Mulai dari rusaknya persediaan Air Susu Ibu (ASI) perah milik para ibu menyusui, hilangnya pendapatan para pelaku usaha mikro, rusaknya hasil tangkapan nelayan akibat krisis es batu, hingga terganggunya akses pendidikan daring bagi para siswa. Di saat yang sama, minimnya informasi resmi dari pihak penyedia layanan membuat keresahan masyarakat kian meluas.
Jeritan Ibu Menyusui hingga Sektor Perikanan Lumpuh
Dampak langsung pemadaman listrik dirasakan oleh Gamita Salendri (Riri), warga Batam yang harus merelakan sekitar 4,5 liter atau 30 kantong ASI perah miliknya rusak dan mencair akibat listrik padam lebih dari 15 jam. Penampungan ASI yang dikumpulkannya selama berminggu-minggu sebagai persediaan menjelang usia makanan pendamping ASI (MPASI) bayinya terbuang sia-sia.
Kondisi serupa dialami Devina Wistiasari, seorang dosen di Batam. Ia kehilangan sekitar 100 kantong ASI perah atau setara 15 liter yang dikumpulkan selama empat bulan. Upaya menyelamatkan stok ASI ke tempat lain pun gagal dilakukan karena pemadaman melanda secara merata di berbagai penjuru kota.
Dampak lebih parah dialami warga Kabupaten Bintan. Di wilayah Kawal, pemadaman berlangsung hingga 52 jam. Ketiadaan pasokan listrik memicu lonjakan harga kebutuhan pokok serta memicu kelangkaan es batu. Kondisi ini membuat sektor perikanan setempat mati total karena para penampung tidak mampu menyerap hasil tangkapan nelayan.
Tak hanya itu, pelaku usaha kecil seperti penyedia jasa pencucian pakaian (laundry) mengalami penurunan omzet hingga 60 persen karena ketiadaan pasokan air dan listrik. Sektor pendidikan juga terganggu; para siswa yang dijadwalkan mengikuti pembelajaran jarak jauh via Zoom terpaksa absen akibat terputusnya jaringan telekomunikasi dan internet.
Penjelasan PLN dan Alasan Pemadaman Berlangsung Lama
Mengenai pemicu pemadaman, PT PLN Batam mengidentifikasi adanya indikasi awal gangguan akibat masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan pada Senin pukul 06.37 WIB. Kendati demikian, penelusuran lebih mendalam oleh tim teknis masih terus berjalan.
Manager Komunikasi PLN Batam, Yoga Perdana Sulastama, menyatakan pemulihan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan fasilitas publik vital seperti rumah sakit, bandara, dan pelabuhan. Namun, proses pemulihan berjalan lambat dan tidak merata, di mana beberapa wilayah seperti Sei Beduk di Batam mengalami pemadaman hingga 27 jam, sementara beberapa daerah di Bintan baru pulih pada Rabu sore.
Sebagai bentuk tanggung jawab, PLN Batam menyiapkan skema kompensasi sesuai Tingkat Mutu Pelayanan (TMP). Sekretaris Perusahaan PLN Batam, Rudi Antono, menjelaskan bahwa pelanggan reguler akan mendapatkan pemotongan tagihan sebesar 10 persen dari biaya beban bulanan, sedangkan pelanggan layanan keandalan menerima kompensasi 15 hingga 25 persen yang dialokasikan secara otomatis pada periode tagihan berikutnya.
Pentingnya Investigasi Akar Masalah dan Evaluasi Kompensasi
Keterangan resmi terkait dugaan hewan liar memicu keraguan publik. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menegaskan bahwa regulator perlu menggelar investigasi menyeluruh untuk menemukan akar masalah (root cause analysis), bukan sekadar mencari pemicu awal.
Menurut Fabby, investigasi independen sangat krusial untuk mengevaluasi keandalan sistem proteksi, kecukupan cadangan daya, hingga prosedur penanganan darurat. Lama waktu pemulihan di wilayah Batam-Bintan juga dipengaruhi oleh karakteristik Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang memerlukan waktu pemanasan lama hingga seharian penuh setelah mengalami mati total.
Sementara itu, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Niti Handayani, mengkritik skema kompensasi yang diatur dalam regulasi saat ini. Menurutnya, potongan tagihan listrik belum sepadan dengan total kerugian ekonomi, kesehatan, dan kerusakan alat elektronik yang ditanggung masyarakat.
YLKI mengimbau agar pemerintah dan regulator melakukan evaluasi menyeluruh atas keandalan sistem kelistrikan nasional. Mengingat kejadian pemadaman skala besar juga sempat terjadi di wilayah Sumatra dan Jawa beberapa waktu sebelumnya, langkah pencegahan konkret menjadi kebutuhan mendesak agar kerugian serupa tidak terus berulang.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post