Di tengah perdebatan global mengenai persaingan komputasi dan pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berkekuatan raksasa, sebuah pandangan krusial datang dari akademisi Indonesia. Dalam ajang panggung teknologi dunia, perwakilan Indonesia menegaskan bahwa tolok ukur kemajuan AI tidak boleh sekadar dinilai dari seberapa canggih mesin tersebut, melainkan seberapa dalam teknologi mampu memahami konteks kemanusiaan, bahasa, dan budaya lokal.
Gagasan tersebut disampaikan oleh akademisi dari Program Vokasi Universitas Indonesia (UI), Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, saat menjadi pembicara dalam panel diskusi di forum internasional Global Digital Forum II 2026 yang berlangsung di Moskow pada 8–10 Oktober 2026. Ajang bereputasi global ini dihadiri lebih dari 1.000 pakar teknologi informasi, 50 pejabat tingkat menteri, serta perwakilan dari 50 perusahaan teknologi papan atas yang berasal dari 100 negara lebih.
Mengembalikan Kecerdasan Buatan ke Akar Kemanusiaan
Mengusung paparan bertajuk “More Than Words. Beyond Code. Back to Humanity. Why Language, Culture & Community Matter in AI”, Devie mengkritik tren global yang terlalu berfokus pada persaingan model komputasi dan pengumpulan data besar-besaran tanpa mempertimbangkan aspek humanis. Menurutnya, teknologi yang dikembangkan saat ini kerap mampu menerjemahkan bahasa, tetapi belum tentu memahami nilai, pengalaman, dan kebudayaan masyarakat pengguna.
“Dunia sedang menginvestasikan sumber daya yang sangat besar untuk membuat mesin semakin pintar. Tetapi kita juga perlu bertanya, apakah teknologi tersebut benar-benar membuat kehidupan manusia semakin baik?” tegas Devie Rahmawati di hadapan para panelis dunia, termasuk pimpinan perguruan tinggi Afrika, direktur media penyiaran publik Madagaskar, hingga pimpinan teknis raksasa teknologi Yandex.
Penerima penghargaan Australia Award tersebut menambahkan bahwa masa depan AI idealnya tidak didominasi oleh pihak yang hanya memiliki infrastruktur superkomputer tercepat. Kecerdasan buatan yang bernilai tinggi adalah teknologi yang mampu membuka lebih banyak kesempatan, pilihan, serta kendali bagi manusia atas masa depannya sendiri.
Martabat Bahasa Daerah dalam Ekosistem Digital Global
Dalam forum tersebut, Devie menyoroti pentingnya pengakuan terhadap bahasa-bahasa daerah yang kerap tersisih dalam pengembangan AI karena keterbatasan data digital. Ia menolak pandangan bahwa bahasa daerah bernilai lebih rendah di era modern.
“Sebuah bahasa bukan ‘miskin’ karena masyarakatnya tidak memiliki pengetahuan, melainkan karena bahasa itu belum cukup didengarkan dan dipelajari oleh teknologi,” jelas peneliti tetap Vokasi UI tersebut.
Dengan memasukkan bahasa dan kebudayaan lokal ke dalam sistem AI, masyarakat pemilik bahasa daerah tidak hanya ditempatkan sebagai konsumen pasif dari produk teknologi asing, tetapi turut serta menentukan bagaimana identitas dan kehidupannya direpresentasikan secara adil dalam ruang digital.
Bukti Konkret Literasi Digital Berbasis Komunitas
Guna memperkuat argumentasinya, Devie membagikan pengalaman konkret dalam mendorong literasi digital melalui program Klinik Digital. Selama lima tahun terakhir, inisiatif ini telah menerjemahkan serta mengadaptasi modul-modul edukasi digital ke dalam sedikitnya 10 bahasa daerah di Indonesia.
Langkah ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat di tingkat tapak. Penerapan bahasa lokal yang familier terbukti memudahkan pemahaman warga, seperti membantu para ibu mengenali modus penipuan digital, atau memudahkan tenaga pendidik dalam menerangkan risiko teknologi dengan pendekatan yang selaras dengan nilai kebudayaan setempat.
“Selama ini kita sering berpikir bahwa tugas teknologi adalah menerjemahkan kata. Pengalaman kami menunjukkan bahwa yang lebih penting adalah menerjemahkan pengetahuan menjadi pemahaman, pemahaman menjadi kepercayaan diri, dan kepercayaan diri menjadi kesempatan,” pungkas Devie.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post