Platform desain terkemuka, Figma, resmi meluncurkan serangkaian fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) dan pengeditan teks cerdas yang dirancang untuk memperketat standar desain industri sekaligus menjembatani jurang antara desainer dan pengembang aplikasi. Langkah strategis ini diumumkan dalam ajang tahunan Config yang diselenggarakan di India, menandai komitmen perusahaan dalam membangun ekosistem pengembangan perangkat lunak yang lebih presisi dan terintegrasi.
Inovasi utama yang menjadi sorotan adalah Figma Specs, sebuah editor berbasis Markdown yang memungkinkan tim produk menentukan panduan dan bahasa desain perusahaan secara terstruktur. Kehadiran alat ini menjadi krusial di tengah pesatnya adopsi agen AI dalam proses kreatif. Dengan Figma Specs, organisasi dapat menetapkan aturan main yang jelas agar agen AI milik perusahaan maupun pihak ketiga dapat menghasilkan desain yang konsisten dan patuh pada identitas merek (brand guidelines).
Kendalikan AI dengan Dokumentasi Terpusat
Fitur Figma Specs beroperasi tidak sekadar sebagai pengolah kata biasa. Editor ini dapat berdiri sendiri sebagai berkas terpisah atau disematkan langsung di dalam kanvas kerja. Pengguna dapat menghubungkan elemen visual secara terintegrasi, memasukkan diagram dari FigJam, mengintegrasikan baris kode, hingga merujuk pada komponen desain spesifik.
Pendekatan ini diambil untuk mengatasi sifat AI yang acak dan tidak terprediksi (non-deterministic). Dengan memusatkan pustaka desain (design libraries) dan pustaka kode (code libraries) ke dalam satu sistem rujukan terpusat, tim pengembangan memberikan batasan kontekstual yang ketat bagi agen AI. Hasilnya, AI tidak lagi menerka-nerka, melainkan bekerja sesuai dengan parameter teknis yang telah ditentukan.
Ekspansi ini melengkapi peluncuran fitur agen AI pada kanvas yang mulai dibuka untuk basis pengguna yang lebih luas, guna memastikan hasil keluaran generative AI tetap berada dalam koridor estetika dan fungsi yang diinginkan.
Menjembatani Desain dan Kode Lewat ‘Code Layers’
Selain aspek dokumentasi, Figma juga resmi membawa fitur Code Layers ke tahap public beta, setelah sebelumnya diuji coba secara terbatas pada pertengahan tahun ini. Fitur ini memungkinkan tim produk memasukkan logika pemrograman langsung ke dalam kanvas desain untuk menciptakan prototipe yang jauh lebih interaktif.
Melalui interaksi berbasis perintah teks (prompt), pengguna kini dapat meminta agen AI untuk mengubah draf visual menjadi baris kode fungsional, atau mengubah bagian kode tertentu secara langsung untuk melakukan iterasi cepat pada prototipe.
Chief Design Officer Figma, Loredana Crisan, mengungkapkan bahwa dinamika pengembangan perangkat lunak telah bergeser secara drastis sejak kehadiran AI. Menurut datanya, saat ini terdapat lonjakan hingga 17 kali lipat jumlah baris kode yang dihasilkan dibandingkan masa lalu. Namun, tingkat perilisan produk ke pasar hanya meningkat sekitar 1,3 kali lipat.
“Sebagian besar kode yang diproduksi saat ini sebenarnya tidak dibuat untuk langsung dirilis ke publik, melainkan digunakan sebagai sarana eksplorasi untuk memahami seperti apa produk tersebut akan dibentuk. Kode kini telah menjadi bagian dari proses desain itu sendiri,” ujar Crisan.
Integrasi CMS Headless dan Ekspansi Pasar Global
Guna memperkuat kapabilitas pengembangan situs web dinamis, Figma mengintegrasikan Payload—platform open-source headless CMS yang diakuisisinya tahun lalu—ke dalam produk Figma Make. Integrasi ini memungkinkan pengembang mengelola konten secara langsung dari lingkungan desain. Sepanjang 12 bulan terakhir, tingkat pengunduhan Payload dilaporkan telah melonjak hingga enam kali lipat.
Tak hanya dari sisi perangkat lunak, Figma juga memperluas protokol interkoneksinya melalui integrasi Model Context Protocol (MCP) ke lebih dari 20 alat AI terkemuka, termasuk Open Code, Dia, Grok Bot, serta startup AI asal India, Sarvam.
Pemilihan India sebagai panggung pengumuman fitur baru ini bukanlah tanpa alasan. Negara tersebut kini tercatat sebagai pasar pengguna terbesar bagi Figma di luar Amerika Serikat. Dengan operasional kantor lokal yang mencakup fungsi penjualan, kemitraan, hingga dukungan produk, platform ini mengklaim telah digunakan oleh lebih dari 40 persen perusahaan teratas yang terdaftar di Bursa Efek Bombay (BSE).

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post