Harmoni di Balik Rimbun Domaine des Oseraies: Ketika Dua Raksasa Mode Bersatu
Di bawah naungan dedaunan hijau yang mulai disentuh keemasan musim gugur, semilir angin sejuk membawa ketenangan di Domaine des Oseraies. Di tempat yang disulap oleh Sylvie dan Didier Grumbach menjadi oase kreativitas serta dialog lintas generasi ini, sebuah momentum penting bagi industri mode global kembali digelar. Acara tahunan ‘Forum de la mode revisité’ yang mempertemukan para alumni Institut français de la mode, kini bertransformasi menjadi panggung krusial bagi para pemangku kepentingan industri luxury dunia.
Namun, di balik keindahan lanskap pedesaan yang menenangkan itu, tersimpan urgensi besar. Prancis dan Italia—dua kiblat mode dunia yang kerap dijuluki “musuh bebuyutan yang saling mencintai”—memilih untuk meleburkan ego. Melalui perwakilan dari Fédération de la Haute Couture et de la Mode (FHCM), Sistema Moda Italia, Confindustria Moda, Union française des industries mode et habillement (UFIMH), dan Entreprises du patrimoine vivant, kedua negara sepakat merapatkan barisan demi menghadapi badai yang tengah mengguncang takhta kemewahan Eropa.
Badai di Ranah Luxury: Menghalau Bayang-Bayang ‘Sottoscala’
Setelah satu dekade menikmati pertumbuhan yang eksponensial, industri barang mewah global harus menghadapi kenyataan pahit berupa perlambatan pasar dalam dua tahun terakhir. Situasi ini kian diperparah oleh rentetan skandal kondisi kerja subkontraktor yang mencoreng reputasi luhur manufaktur Eropa. Istilah sottoscala—bengkel kerja klandestin di bawah tangga yang mengeksploitasi pekerja—kini menjadi momok yang diperangi secara terbuka.
Luca Sburlati, salah satu tokoh kunci dari Confindustria Moda, dengan tegas menyuarakan kegelisahannya mengenai distorsi biaya produksi ini. “Pasca-Covid, ada ambisi yang terburu-buru. Namun mari kita jujur: ini bukan sekadar masalah biaya produk yang hanya berkisar 10% hingga 15% dari harga ritel. Ketika manajemen menengah ditekan untuk memangkas biaya tenaga kerja demi insentif, kita sedang berjalan menuju kebangkrutan moral dan finansial,” ujarnya. Sburlati mendesak dihentikannya kesepakatan lokal yang merugikan pekerja dan menuntut penerapan perjanjian kolektif nasional yang setara.
Senada dengan Sburlati, Pierre-François Le Louët selaku Co-President UFIMH menegaskan bahwa tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan rumah mode (brand) besar. “Sangat tidak adil jika merek-merek mewah, termasuk merek Prancis yang saya wakili, terus memanfaatkan unit-unit kecil yang beroperasi di kegelapan demi menekan biaya. Praktik ini harus dihentikan demi kemanusiaan dan keberlanjutan industri,” tegasnya. Terlebih lagi, skandal ini berdampak langsung pada penurunan ekspor ke pasar Asia yang sangat sensitif terhadap isu etis, seperti penurunan ekspor Italia sebesar 25% ke Korea Selatan dan 10% ke Jepang.
Sinergi Estetika Prancis dan Presisi Industri Italia
Melihat lanskap geopolitik dan kompetisi global yang kian agresif, kolaborasi menjadi satu-satunya jalan keluar yang rasional. Pascal Morand, Executive Chairman FHCM, menggambarkan hubungan kedua negara ini sebagai sebuah ekosistem yang tak terpisahkan. “Prancis unggul dalam teknik draping dan renda (lace) yang adiluhung, sementara Italia adalah rajanya rajutan (knitwear) dan alas kaki. Keduanya saling melengkapi,” ungkapnya.
Untuk meringankan beban para penyuplai yang kerap kewalahan menghadapi audit berlapis dari berbagai rumah mode, sebuah inisiatif audit bersama (shared audit framework) kini tengah digagas. Sergio Marini, yang menangani urusan hukum di grup raksasa LVMH, menjelaskan bahwa standarisasi dokumen audit ini akan sangat membantu efisiensi produksi. “Dalam situasi sulit seperti dua tahun terakhir, satu penyuplai bisa menghadapi hingga 10 audit dalam satu kuartal. Menyinkronkan proses ini adalah langkah penyelamatan yang sangat penting,” jelas Marini.
Menjaga Warisan ‘Renaissance’ dan Menatap Masa Depan di Brussels
Kehilangan keahlian tradisional (know-how) adalah ancaman terbesar bagi masa depan mode mewah. Tanpa adanya pengrajin terampil, keunikan yang menjadi pilar utama haute couture dan produk premium akan sirna. Oleh karena itu, para pemimpin mode mendesak agar kurikulum sekolah mode kembali fokus pada keahlian produk dan magang langsung di bengkel kerja (atelier).
Di sisi lain, aliansi Prancis-Italia yang merepresentasikan 80% sektor tekstil dan pakaian jadi Eropa ini mulai menunjukkan taringnya di tingkat kebijakan Uni Eropa di Brussels. Salah satu pencapaian nyata adalah penghapusan pembebasan pajak untuk paket non-UE di bawah 150 euro, yang berhasil memangkas volume paket masuk hingga 50% sejak Juli lalu. Langkah ini memastikan bahwa semua pemain di pasar Eropa tunduk pada aturan main yang adil.
Kini, fokus aliansi ini tertuju pada regulasi masa depan seperti Digital Product Passport (DPP), Ecodesign, dan aturan tanggung jawab produsen yang diperluas (EPR). Langkah bersama ini bukan sekadar tentang proteksi bisnis, melainkan sebuah misi suci untuk mempertahankan model sosial dan budaya Eropa, di mana sehelai busana diciptakan dengan rasa hormat, keahlian tinggi, dan jiwa yang bernilai seni tinggi.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post