Presiden Prabowo Subianto resmi melantik 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara. Langkah strategis ini diambil guna memperkuat fondasi pengambilan keputusan pemerintah dengan menghimpun jajaran figur berpengaruh dari beragam latar belakang, mulai dari mantan pejabat senior, tokoh bisnis papan atas, pemimpin keagamaan, hingga intelektual publik yang selama ini dikenal kritis.
Pelantikan lembaga penasihat negara ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 107/P/2026. Wantimpres mengemban mandat konstitusional untuk memberikan nasihat, pertimbangan, serta rekomendasi strategis langsung kepada Presiden dalam menjalankan roda pemerintahan dan mengawal kebijakan nasional.
Kombinasi Politisi Senior dan Mantan Teknokrat
Dalam susunan kepengurusan yang baru, mantan Menteri Sekretaris Negara dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, dipercaya menjabat sebagai Ketua Wantimpres. Ia didampingi oleh politisi senior Hatta Rajasa yang ditunjuk sebagai Wakil Ketua. Hatta bukanlah sosok baru dalam rekam jejak politik Prabowo, mengingat ia pernah menjadi cawapres mendampingi Prabowo pada Pemilu 2014.
Sementara itu, posisi Sekretaris Wantimpres diamanahkan kepada Muhammad Qodari, mantan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah. Kehadiran para purnatugas birokrat dan politisi berpengalaman ini diharapkan mampu memperkuat koordinasi lintas sektor dan memberikan analisis kebijakan yang mendalam.
Sejumlah mantan menteri dan pejabat tinggi negara juga memperkuat jajaran anggota, di antaranya mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, mantan Kepala BIN dan Menko Polkam Budi Gunawan, serta mantan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo.
Rangkul Konglomerat, Tokoh Agama, hingga Pengkritik Tajam
Komposisi Wantimpres kali ini menarik perhatian publik karena merangkul spektrum figur yang sangat luas. Di sektor ekonomi dan bisnis, Presiden memboyong sejumlah pengusaha terkemuka, seperti Chairul Tanjung, pengusaha jalan tol Jusuf Hamka, pendiri Mayapada Group Dato’ Sri Tahir, serta tokoh pemikir ekonomi dan internasional Jusuf Wanandi.
Langkah rekonsiliatif dan inklusif juga terlihat dari hadirnya dua tokoh sentral ormas Islam besar Indonesia, yakni mantan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.
Namun, sorotan utama tertuju pada masuknya pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung. Sosok yang sempat menjadi pendukung Prabowo ini dalam beberapa tahun terakhir dikenal sebagai salah satu pengkritik paling tajam terhadap kebijakan pemerintah. Pelibatan Rocky dinilai sebagai sinyal keterbukaan Istana terhadap masukan yang independen dan kritis.
Melengkapi Gelombang Perombakan Kabinet
Pelantikan Wantimpres ini dilakukan hanya berselang sehari setelah Presiden Prabowo melakukan perombakan besar-besaran (reshuffle) pada jajaran Kabinet Merah Putih. Langkah cepat ini menandai konsolidasi kekuasaan dan penataan ulang fokus kerja pemerintah di berbagai sektor vital.
Dalam kocok ulang kabinet tersebut, beberapa posisi kunci mengalami pergeseran strategis. Arrmanatha Christiawan Nasir resmi dilantik sebagai Menteri Luar Negeri, Dudung Abdurachman mengemban tugas sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, sementara Sugiono dipercaya menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post