Menakar Arti Keberhasilan: Ajakan Menjadi Orang Biasa yang Berkualitas
Jakarta – Sebuah perspektif segar mengenai makna kesuksesan dan kepemimpinan mengemuka dalam seminar nasional yang digelar di Universitas PTIQ Jakarta. Menghadirkan Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, forum ini menantang narasi umum yang kerap mendesak generasi muda untuk selalu mengejar puncak ambisi, jabatan, dan kemasyhuran.
Dalam orasinya yang bertajuk “Menjadi Orang Biasa yang Berkualitas: Fondasi Peradaban,” Hasan Nasbi mengajak para mahasiswa untuk lebih membumi. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk menjadi “orang biasa” di tengah derasnya tekanan sosial untuk tampil istimewa atau luar biasa.
Melawan Kecemasan Status di Era Media Sosial
Hasan menyoroti fenomena status anxiety atau kecemasan status yang dipicu oleh budaya pamer di media sosial. Narasi tentang miliarder muda atau CEO di usia 20-an sering kali menciptakan standar kesuksesan yang semu, yang pada akhirnya memicu kelelahan mental, burnout, hingga depresi spiritual pada generasi muda.
Mengutip filsuf Alain de Botton dan psikolog Alfred Adler, Hasan memperkenalkan konsep the courage to be normal. Menurutnya, menjadi orang biasa bukanlah bentuk kepasrahan atau kemalasan, melainkan sebuah kedewasaan batin untuk membebaskan diri dari perlombaan gengsi sosial yang melelahkan.
“Dalam sebuah kapal, nakhoda cukup satu, sisanya adalah juru mesin, petugas bahan bakar, dan penjaga lambung kapal. Kalau semua berebut menjadi nakhoda, kapal akan segera oleng,” tegas Hasan dalam paparannya.
Fondasi Peradaban yang Tak Terlihat
Lebih jauh, Hasan menganalogikan masyarakat seperti sebuah bangunan masjid yang megah. Publik sering kali hanya mengagumi kubahnya, padahal keindahan tersebut berdiri kokoh berkat fondasi yang tersembunyi di dalam tanah. Ia meyakini bahwa sebagian besar manusia akan berperan sebagai fondasi, tiang, dan dinding yang menyokong peradaban.
Ia memberikan apresiasi kepada sosok-sosok yang bekerja tanpa publikasi, seperti guru di desa terpencil, orang tua yang mendidik anak dengan nafkah halal, hingga birokrat yang menjaga integritas. Baginya, kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh mereka yang duduk di kursi kekuasaan, melainkan oleh karakter dan integritas rakyatnya.
“Pemimpin sehebat apa pun hanya akan memimpin ilusi bila rakyatnya tidak berkarakter. Sebaliknya, makmum yang cerdas dan berkualitas mampu menyokong imam yang adil sekaligus mengoreksinya dengan adab,” tambahnya.
Integritas di Balik Peran
Seminar ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Menteri Agama RI sekaligus Rektor Universitas PTIQ, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., serta jajaran akademisi dan aktivis kepemudaan. Ketua Senat Mahasiswa Universitas PTIQ Jakarta, Arya Putra Fertana, menyatakan bahwa pesan tersebut selaras dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan di lingkungan kampus.
“Kepemimpinan tidak lahir dari panggung, tetapi dari ruang-ruang organisasi tempat kita belajar melayani, berproses, dan menjaga integritas. Kami berharap mahasiswa PTIQ tumbuh menjadi pribadi berkualitas di mana pun takdir menempatkannya,” ujar Arya.
Sebagai penutup, Hasan berpesan agar mahasiswa menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman moral dalam membangun etos kerja. Ia menegaskan bahwa soal posisi di puncak kepemimpinan, hal tersebut merupakan bagian dari takdir. Yang terpenting, setiap individu harus siap menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab, baik sebagai pemimpin maupun sebagai bagian dari masyarakat luas.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post