JAKARTA — Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) tengah mengakselerasi penyusunan peta jalan (roadmap) ekosistem semikonduktor regional guna merespons ketatnya persaingan perebutan investasi teknologi tinggi global. Langkah strategis ini dimanfaatkan Indonesia untuk mempertegas posisinya dalam rantai pasok semikonduktor dunia dengan berfokus pada penguatan kapabilitas industri dalam negeri serta penguasaan ceruk pasar (niche market) yang bernilai tambah tinggi.
Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri mengungkapkan bahwa Indonesia mendorong pembentukan peta jalan semikonduktor ASEAN yang ditopang oleh lima pilar utama. Kelima pilar tersebut meliputi riset akademik, keandalan rantai pasok, penyediaan infrastruktur mineral kritis, investasi yang saling melengkapi, hingga harmonisasi skema insentif di kawasan.
“Pendekatan ini ditujukan untuk membangun ekosistem regional yang saling melengkapi sekaligus mencegah persaingan tidak sehat antarnegara anggota ASEAN dalam memperebutkan investasi semikonduktor,” ujar Roro.
Strategi Membidik Ceruk Pasar dan Desain Chip
Peta persaingan memperebutkan investasi teknologi di Asia Tenggara saat ini makin sengit. Thailand tercatat sukses menarik pengajuan investasi industri semikonduktor dan elektronik canggih senilai lebih dari US$ 26,8 miliar (setara Rp425 triliun) sepanjang 2023 hingga pertengahan 2026. Di saat yang sama, Malaysia memancangkan target investasi semikonduktor fantastis mencapai 500 miliar ringgit pada 2030.
Melihat lanskap persaingan tersebut, Indonesia memilih strategi yang rasional dengan mengoptimalkan pijakan awal yang telah dimiliki. Indonesia saat ini sudah dibekali fasilitas perakitan dan pengujian (assembly and testing), keberadaan perusahaan desain sirkuit terpadu (integrated circuit design), serta dukungan kuat dari industri hilir seperti manufaktur elektronik dan komponen otomotif.
Langkah penguatan sektor ini kian mendesak mengingat ketergantungan pasar domestik terhadap produk impor masih sangat tinggi. Data mencatat, nilai impor semikonduktor Indonesia melonjak signifikan dari US$ 2,33 miliar pada 2020 menjadi US$ 4,87 miliar pada periode Januari–November 2025. Angka ini mencerminkan potensi pasar dalam negeri yang sangat besar namun belum mampu dipenuhi secara optimal oleh industri lokal.
Mengingat tahapan fabrikasi wafer (chip fabrication) membutuhkan modal raksasa, konsumsi energi masif, dan penguasaan teknologi tinggi, pemerintah menilai segmen perancangan chip (chip design), pengujian (testing), dan pengemasan (packaging) sebagai pilihan paling realistis. Fokus pada ceruk pasar ini dinilai paling sesuai dengan kapasitas dan kesiapan industri nasional saat ini.
Tantangan Ekosistem Investasi dan Kesiapan SDM
Kendati memiliki peluang pertumbuhan yang menjanjikan, pengembangan industri berteknologi tinggi di Indonesia tidak lepas dari tantangan struktural. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, menekankan pentingnya kesiapan ekosistem domestik secara menyeluruh untuk menarik minat investor global.
“Investor tidak hanya membutuhkan insentif pajak, tetapi juga rantai pasok yang andal, logistik yang efisien, serta kepastian hukum dan iklim usaha yang dapat diprediksi,” kata Dipo.
Dari sisi sumber daya manusia, pemerintah mulai mengambil langkah konkret untuk menutup kesenjangan talenta digital. Indonesia telah menjalin kerja sama strategis dengan penyedia teknologi global, Arm, dalam menyelenggarakan program pelatihan SDM semikonduktor. Setelah berhasil melatih 1.000 peserta pada tahap awal, program ini ditargetkan mampu mencetak sedikitnya 15.000 talenta terampil di bidang semikonduktor dalam kurun tiga hingga lima tahun mendatang.
Peluang Strategis dalam Rantai Nilai Global
Semikonduktor telah menjadi komponen inti yang menggerakkan seluruh ekosistem perangkat elektronik modern, mulai dari ponsel pintar, kendaraan listrik, peralatan medis, hingga infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Dinamika geopolitik dan pergeseran rantai pasok global kini mendorong banyak perusahaan teknologi dunia menerapkan strategi China+1, yaitu melakukan diversifikasi basis produksi dari Asia Timur ke kawasan Asia Tenggara.
Dalam konstelasi ini, ASEAN kian kokoh menjadi pusat pertumbuhan baru untuk pengujian, pengemasan, dan manufaktur komponen pendukung. Posisi Indonesia dinilai sangat strategis karena ditopang oleh keunggulan komparatif berupa kekayaan cadangan mineral kritis—seperti nikel dan tembaga—yang menjadi bahan baku vital industri teknologi, serta basis konsumen yang sangat besar.
Dengan mengoptimalkan pembagian kerja regional di ASEAN, fokus pada lini chip design, serta konsistensi dalam mencetak talenta terampil, Indonesia berpeluang besar untuk bertransformasi dari sekadar pasar konsumen menjadi pemain kunci yang terintegrasi dalam jaringan produksi teknologi tinggi dunia.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post