Kemanusiaan dari Malang: Maharesigana UMM Dampingi Sekolah Darurat Pascabencana di Manggarai NTT
Aktivitas pendidikan di wilayah terdampak bencana di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), perlahan mulai menggeliat kembali dalam sepekan terakhir. Meski demikian, proses belajar-mengajar masih harus berlangsung di bawah bayang-bayang trauma dan keterbatasan fasilitas. Menjawab panggilan kemanusiaan ini, tim relawan mahasiswa dari Malang Raya turun langsung ke garis depan untuk mengawal pemulihan psikologis anak-anak penyintas bencana.
Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaporkan bahwa sejumlah sekolah di lokasi terdampak kini mulai mengaktifkan kembali kegiatan belajar-mengajar. Namun, karena infrastruktur sekolah yang rusak parah, para siswa terpaksa harus belajar di dalam tenda-tenda darurat berbahan terpal.
Belajar di Bawah Tenda Terpal dan Ancaman Gempa Susulan
Ketua Maharesigana UMM, Wahyu Ananta Putra, menjelaskan bahwa kondisi di lapangan masih jauh dari kata ideal. Aktivitas belajar belum bisa sepenuhnya kembali normal seperti sedia kala karena keterbatasan sarana dan prasarana penunjang.
“Untuk saat ini sudah mulai aktif kembali untuk beberapa sekolah. Satu minggu terakhir insya Allah sudah mulai aktif untuk sekolah-sekolah,” ujar Wahyu Ananta Putra saat memberikan pembaruan kondisi lapangan dari lokasi bencana.
Wahyu menambahkan, selain fasilitas yang minim, faktor keselamatan juga masih menjadi perhatian utama. Beberapa lokasi sekolah darurat didirikan tidak jauh dari reruntuhan bangunan yang dinilai masih rawan roboh. Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari para tenaga pendidik.
“Ketika terjadi gempa susulan, guru harus sigap dan segera mengevakuasi siswa menuju lokasi yang lebih aman dan terbuka,” imbuhnya menekankan pentingnya mitigasi bencana di ruang kelas darurat.
Trauma Membayang, Relawan Malang Berikan Layanan Psikososial
Rasa cemas dan waspada yang tinggi dilaporkan masih menyelimuti para siswa, guru, hingga orang tua di Manggarai. Pola aktivitas warga pun masih tidak menentu; sebagian masyarakat sempat kembali ke rumah masing-masing untuk menyelamatkan barang berharga atau memeriksa struktur bangunan, namun mereka akan bergegas kembali ke posko pengungsian begitu merasakan adanya getaran gempa susulan.
Melihat kondisi psikologis masyarakat yang terguncang, tim Maharesigana UMM tidak hanya fokus pada bantuan fisik, melainkan juga memprioritaskan pemulihan mental anak-anak. Mereka secara intensif menyalurkan layanan dukungan psikososial (psychosocial support) di sekolah-sekolah darurat tersebut.
Layanan psikososial ini dirancang secara adaptif, menyesuaikan dengan kebutuhan emosional dan kondisi riil anak-anak di tiap posko pengungsian. Melalui trauma healing, permainan edukatif, dan pendampingan mental, para relawan asal Malang ini berupaya mengembalikan senyum dan memantik kembali semangat belajar anak-anak Manggarai di tengah keterbatasan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post