Langkah terobosan baru di pasar modal Indonesia diwarnai koreksi IHSG pada pembukaan perdagangan awal pekan. IHSG melemah 0,52 persen ke level 6,209 bersamaan dengan berlakunya kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan batas bawah harga saham reguler dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar saham.
Koreksi indeks acuan sebesar 32 poin ini membawa IHSG bergerak di rentang 6,180 hingga 6,209 pada sesi awal perdagangan. Berdasarkan data transaksi pasar, tercatat sebanyak 2,43 miliar lembar saham berpindah tangan dengan total nilai transaksi mencapai Rp476,37 miliar. Pemetaan pergerakan saham memperlihatkan mayoritas tekanan jual, di mana 386 saham melemah, 165 saham menguat, dan 165 saham lainnya stagnan.
Babak Baru Regulasi Pasar Modal dan Normalisasi Papan FCA
Penerapan harga minimum baru ini menandai era baru dalam fleksibilitas perdagangan saham bernilai rendah di pasar reguler dan pasar tunai. Analis pasar modal mencatat bahwa investor tengah bersikap hati-hati sambil mencermati dampak likuiditas dari penyesuaian batas harga ekstrem tersebut.
Di bawah skema aturan gres ini, saham dengan rentang harga Rp1 hingga Rp10 akan mengacu pada batas Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) sebesar Rp1. Sementara itu, untuk saham berspesifikasi harga di atas Rp10, mekanisme ARB asimetris sebesar 15 persen masih tetap diberlakukan hingga 31 Desember 2026, sebelum akhirnya kembali ke mekanisme simetris secara penuh pada 1 Januari 2027.
Bersamaan dengan regulasi baru tersebut, otoritas bursa juga merombak kriteria Papan Pemantauan Khusus (PPK) berbasis mekanisme Full Call Auction (FCA). Dengan dihapuskannya kriteria 1, 6, 7, dan 10 dari papan pemantauan tersebut, sebanyak 92 emiten yang sebelumnya terdepak ke papan FCA kini resmi dikembalikan ke papan pencatatan asal mereka. Perubahan ini diyakini akan mengubah dinamika perdagangan saham berharga murah serta menuntut kehati-hatian ekstra dari para pelaku pasar.
Sentimen Domestik dan Angin Segar Dinamika Global
Selain fokus pada perombakan aturan bursa, perhatian investor domestik pekan ini juga tertuju pada serangkaian rilis indikator ekonomi penting. Pasar menunggu angka Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur, data neraca perdagangan, serta tingkat inflasi nasional yang dijadwalkan meluncur pertengahan pekan ini.
Pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global yang relatif bervariasi. Dari Wall Street, indeks utama ditutup menguat didorong oleh penguatan saham sektor teknologi dan melandainya harga minyak mentah dunia, meski imbal hasil (yield) obligasi AS (US Treasury) masih berada di level tinggi. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,93 persen, S&P 500 menguat 0,51 persen ke posisi 7.743,41, dan Nasdaq Composite terkerek 0,48 persen.
Dari panggung geopolitik internasional, pelaku pasar terus mengamati perkembangan negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk potensi pembukaan kembali Selat Hormuz setelah muncul usulan diplomasi baru untuk meredakan konflik Timur Tengah. Di sisi lain, perbaikan relasi dagang dunia mendapatkan kepastian setelah Amerika Serikat dan Tiongkok sepakat memperpanjang masa moratorium perang dagang hingga 10 Januari 2027.
Perkembangan kawasan Asia sendiri menunjukkan pergerakan yang cenderung beragam (mixed). Indeks Nikkei Tokyo bergerak datar di kisaran 66.366 dan Kospi Seoul merosot 2,15 persen. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong berhasil menguat 0,63 persen, sedangkan SSE Composite Shanghai melorot 1,11 persen.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post