Dari Bayang-Bayang Panggung ke Garis Depan: Langkah Awal BARIQI
Ada titik balik menarik ketika seorang musisi pendamping memutuskan untuk melangkah keluar dari bayangan lini belakang dan berdiri di bawah sorot lampu utama. Dynamics inilah yang baru saja dialami oleh BARIQI. Setelah sekian lama melayani visi bermusik musisi lain sebagai gitaris additional, solois asal Jakarta ini akhirnya memberanikan diri membuka ruang kreatifnya sendiri lewat muara karya bertajuk “Pusing”.
Langkah solo ini tidak lahir secara instan, melainkan dipicu oleh siklus alamiah dalam skema musik lokal. Ketika beberapa proyek musik yang biasa ia bantu memasuki masa hiatus, BARIQI mendapati dirinya berada di persimpangan jalan: berhenti sejenak atau menciptakan wadah sendiri. Pilihan kedua akhirnya menang. Ia mulai membuka kembali folder arsip digital di telepon genggamnya, merapikan remah-remah ide lagu yang sempat tertimbun durasi, hingga akhirnya membulatkan tekad untuk merilis materi personalnya ke publik.
Catatan Realita Sosial di Balik Harmoni Mentah
Di balik judulnya yang lugas, “Pusing” bukanlah sekadar keluhan generik tentang kepenatan hidup. Lagu ini membawa bobot emosional yang teramat personal sekaligus kolektif, merekam riak realita yang relevan dengan dinamika kelas pekerja muda saat ini. Gagasan utamanya terpicu dari momentum getir ketika BARIQI mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), sebuah peristiwa yang juga menimpa banyak orang di sekitarnya.
“Trigger-nya adalah ketika saya dapat pemberitahuan bahwa saya kena layoff dari pekerjaan sebelumnya, dan ngelihat banyak di lingkungan saya yang terdampak juga,” ungkap BARIQI saat membagikan latar belakang penulisan lagunya.
Alih-alih meluapkan kekecewaan lewat komposisi yang megah atau aransemen yang terlalu ramai, BARIQI justru mengambil pendekatan berani dengan memilih jalur minimalis. Sebagai seorang gitaris, ia menjadikan instrumen utamanya sebagai tulang punggung narasi. Petikan gitar yang dominan dan intim memberikan ruang bernapas bagi liriknya, menciptakan pengalaman dengar yang tidak berjarak—seolah-olah ia sedang duduk di samping pendengarnya, berbagi beban hidup lewat denting senar.
Membangun Ekosistem dan Asa di Skena Independen
Melalui rilisnya “Pusing”, BARIQI tak hanya memvalidasi kapasitasnya sebagai pencipta lagu, tetapi juga menandai babak baru dalam memosisikan pengalaman pribadinya sebagai pusat gravitasi karya. Transisi dari pengisi warna musik orang lain menjadi penyampai pesan utama adalah sebuah langkah pendewasaan musikalitas yang patut diapresiasi.
Di luar urusan dapur rekaman, gairah BARIQI untuk berjejaring di skena independen juga tampak dari antusiasmenya mencari panggung-panggung alternatif. Salah satu ruang yang diincarnya adalah kolektif berkarya seperti CIRCLEGIGS, tempat di mana ekosistem musik independen yang inklusif dan suportif bertumbuh.
“Saya berharap suatu saat bisa main di CIRCLEGIGS, karena banyak musisi-musisi jago dan humble,” tuturnya optimistis.
Debut single “Pusing” menjadi bukti bahwa keresahan yang diolah dengan kejujuran bermusik mampu melahirkan karya yang organik. Bagi BARIQI, ini adalah awal dari manifestasi tulus seorang musisi yang menolak berhenti berkarya di tengah himpitan kenyataan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post