Darurat Sampah Makanan di Kota Malang, Dispangtan Dorong Gerakan Penyelamatan Pangan
MALANG TODAY – Gunungan sampah makanan atau food waste masih menjadi tantangan serius bagi pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan di Kota Malang. Berdasarkan data terbaru, volume timbunan sampah di Kota Pendidikan ini telah menembus angka 731,24 ton per hari, di mana komposisi utamanya didominasi oleh sisa makanan yang terbuang sia-sia.
Menanggapi kondisi kritis tersebut, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang bergerak cepat melancarkan strategi komprehensif untuk menekan angka food loss dan food waste. Langkah ini diambil guna menjaga ketahanan pangan daerah sekaligus mengubah pola konsumsi masyarakat agar lebih bijak dan efisien.
Kepala Dispangtan Kota Malang, Dr. Elfiatur Roikhah, menegaskan pentingnya membedakan dua fase terbuangnya pangan tersebut demi merumuskan solusi yang tepat sasaran. Menurutnya, food loss merupakan penyusutan bahan pangan yang terjadi pada rantai pasok mulai dari proses produksi, panen, hingga distribusi sebelum sampai ke tangan konsumen. Sementara food waste merujuk pada makanan siap santap yang dibuang begitu saja oleh konsumen di tingkat rumah tangga, ritel, maupun industri jasa makanan.
“Kandungan sampah terbesar di Kota Malang memang berasal dari food waste. Angka pemborosan pangan ini tergolong sangat tinggi, sehingga memerlukan intervensi terpadu dari hilir ke hulu,” ujar Elfiatur.
Edukasi B2SA dan Pembentukan Karakter Sejak Dini di Sekolah
Sebagai langkah preventif dari tingkat hulu, Dispangtan Kota Malang menggandeng Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang untuk menanamkan budaya menghargai makanan sejak dini. Kampanye ini diintegrasikan melalui program sosialisasi konsumsi pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) di lingkungan sekolah.
Edukasi ini difokuskan pada pengubahan perilaku generasi muda agar mengambil porsi makanan sesuai kebutuhan dan membiasakan diri menyelesaikannya tanpa sisa. Program ini juga menyasar kolaborasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), para guru, hingga orang tua murid agar disiplin menghabiskan makanan menjadi karakter yang diterapkan di sekolah maupun di rumah.
“Intinya kami memberikan pemahaman kepada para siswa bahwa mengambil makanan itu harus terukur dan sesuai kebutuhan. Jika sudah tertakar, maka wajib dihabiskan. Kebiasaan ini harus dibentuk sejak usia dini agar melekat hingga mereka dewasa,” tegas Elfiatur.
Inovasi Program Foodcare dan Food Rescue Jangkau Lima Kecamatan
Tidak hanya menyasar edukasi perilaku, Dispangtan Kota Malang juga mengeksekusi aksi nyata di lapangan melalui program redistribusi pangan hayati bertajuk Foodcare dan Food Rescue. Program ini dirancang untuk menyelamatkan bahan pangan maupun makanan olahan yang masih aman dan layak konsumsi agar tidak berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Dalam skema Foodcare, Pemkot Malang merangkul para pedagang pasar rakyat untuk mengumpulkan bahan pangan segar yang tampilan fisiknya kurang prima untuk dijual, namun masih memiliki kualitas gizi yang baik. Sementara lewat aksi Food Rescue, Dispangtan bermitra dengan pengelola hotel, restoran, dan katering guna menyelamatkan kelebihan makanan layak edar dari berbagai agenda acara.
Seluruh hasil penyelamatan pangan tersebut selanjutnya disalurkan kepada kelompok masyarakat rentan, seperti panti asuhan, panti jompo, dan warga kurang mampu di berbagai sudut kota.
Guna menjamin kesehatan penerima manfaat, Dispangtan saat ini tengah mematangkan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan mekanisme redistribusi makanan yang ketat. Pengawasan kebersihan dan keamanan pangan dilakukan secara berkala melalui uji laboratorium rutin di pasar-pasar tradisional serta titik layanan SPPG.
Guna memperluas jangkauan manfaat, Pemkot Malang menjalin sinergi dengan sejumlah organisasi non-pemerintah dan lembaga nirlaba seperti Garda Pangan, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), serta lembaga zakat lokal. Program jaring pengaman pangan ini ditargetkan mampu menjangkau secara merata di lima kecamatan se-Kota Malang pada tahun mendatang.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post