Sensasi hangat dari rotasi pita magnetik berwarna cokelat gelap di dalam tape recorder tua menghadirkan keintiman yang gagal disajikan oleh kompresi audio digital. Desis tipis yang konsisten, tekstur analog yang merengkuh frekuensi rendah, hingga ritual membalikkan kaset dari Sisi A ke Sisi B menyajikan ketakziman tersendiri. Pengalaman audio-visual itu kian lengkap saat membaca kertas art print pada j-card album terbaru FSTVLST, Paradoks Diametral. Namun, ada satu penemuan yang mencuri perhatian di sudut kemasan: logo kecil bertuliskan Bojakrama Press, entitas independen asal Surabaya yang kini memegang lisensi rilisan fisik untuk nama-nama besar di peta musik Tanah Air.
Dari Kolektif Gigs Mandiri hingga Rumah Cetak Vinyl
Perjalanan Bojakrama Press tidak lahir secara instan sebagai label rekaman piringan hitam kelas berat. Akar keberadaannya tumbuh dari kancah gigs independen di Surabaya sekitar tahun 2016. Nama “Bojakrama” awalnya merupakan gelaran pertunjukan dari kolektif Rumah Gemah Ripah—sebuah wadah pemuda lintas disiplin yang tumbuh di ekosistem C2O Library & Collabtive. Nama yang diambil dari bahasa Sansekerta ini memiliki arti “berpesta dengan makan dan minum”.
Dipelopori oleh trio Reno Surya, Agus Egha Pamungkas, dan Septian Dwi Satria, pergerakan ini dimulai dengan semangat heroik pasca-keterlibatan mereka di festival independen DIYSub 2015. Mereka bereksperimen membangun panggung musik mandiri tanpa sokongan dana korporasi atau sponsor rokok, demi mengikis kultur “gigs gratisan” dan menyediakan rumah singgah bagi band-band luar kota yang sedang menjalani tur. Panggung perdananya, Bojakrama Vol. 1 pada Februari 2016, menghadirkan Silampukau hingga grup math rock asal Malaysia, Dirgahayu, di sebuah resto daerah Jemursari.
Siasat Subsidikross dan Katalis Sajama Cut
Menjalankan pertunjukan independen idealis tanpa sponsor kerap berbenturan dengan realitas finansial. Risiko rugi atau “boncos” menjadi makanan sehari-hari karena tingginya komitmen memuliakan band tamu. Dari titik nadir inilah lahir siasat pendirian label rekaman sebagai mekanisme subsidi silang untuk membiayai operasional gigs.
Bermodal pengalaman Reno mengelola label punk/metal Reaping Death Records dan Maldoror Manifesto—termasuk sukses merilis vinyl Kelelawar Malam – Jalan Gelap melalui akses pencetakan di Taiwan dari Herry Sutresna (Ucok Homicide)—Bojakrama Press resmi mengepakkan sayapnya pada 2024. Keputusan beraninya ditandai dengan melepas album Godsigma milik unit indie rock Jakarta, Sajama Cut, dalam format piringan hitam 12 inci sebanyak 100 keping yang habis terjual dalam sepekan.
Pintu kran diskografi pun terbuka lebar. Dalam waktu singkat, Bojakrama Press dipercaya mengelola rilisan fisik untuk jajaran nama krusial seperti Majelis Lidah Berduri, Morfem, The Jansen, Banda Neira, Kuntari, The Jeblogs, Jirapah, Silampukau, hingga katalog ikonik FSTVLST dan Jenny lewat gelaran pertunjukan khusus Manifesto Jenny di ASRI pada ajang Artjog 2025.
Labirin Birokrasi dan Realitas Industri Analog
Mengelola label rekaman independen skala nasional dari Jawa Timur menuntut daya tahan ekstra. Di balik estetika piringan hitam di dalam album kolektor, ada tata kelola royalti, transaparansi administrasi, hingga hambatan logistik internasional. Mengingat Indonesia belum memiliki fasilitas cetak piringan hitam berskala industri, Bojakrama harus memproduksi piringan hitam di luar negeri, seperti pabrik di China.
Tangan dingin trio penggerak ini membagi peran secara presisi: Reno menangani ranah kurasi, tekstual, dan relasi; Septian memegang kendali visual dan media sosial; sedangkan Ega mengeksekusi administrasi, distribusi, dan perpajakan. Sinergi ini juga didukung oleh ekosistem scenester Surabaya dari komunitas New Wave hingga hardcore punk yang mengurus teknis cetak, pengemasan, hingga operasional toko fisik baru mereka di Jalan Pucang Anom No. 100, Surabaya.
Perlawanan Kebudayaan di Era Digital
Kehadiran toko fisik Bojakrama Press dan konsistensi merilis format kaset pita serta piringan hitam bukan sekadar romantisme nostalgia. Di tengah arus komodifikasi musik digital yang instan dan serba cepat, rilisan fisik menawarkan perlawanan kebudayaan. Format fisik menghadirkan kembali ritual mendengarkan musik secara utuh: memegang sampul, membaca jalinan lirik, dan menghayati tiap ketukan sonik yang terukir di atas piringan.
Dua dekade setelah era kejayaan produser musik legendaris asal Surabaya, pergerakan Bojakrama Press membuktikan bahwa episentrum industri musik tidak pernah monopoli ibu kota. Dedikasi kolektif dari Kota Pahlawan ini berhasil merawat ruang emosional antara musisi dan pendengarnya, menjadikan musik bukan sekadar gelombang suara yang melintas sekejap, melainkan artefak berjiwa yang terus dirayakan.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post