LOMBOK TENGAH — Keraguan publik terhadap penanganan dugaan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan keagamaan kembali mendapat perhatian serius. Tokoh masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, secara tegas menyatakan komitmennya untuk mengawal penuh proses hukum terkait dugaan kekerasan seksual yang melibatkan bekas pimpinan Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan TGB seusai dirinya resmi dipercaya mengambil alih kepemimpinan di pondok pesantren tersebut pada Jumat (25/9). Langkah penanganan darurat ini dilakukan untuk memastikan keberlangsungan aktivitas pendidikan para santri tetap berjalan aman dan kondusif.
“Harus kita dorong penegakan hukumnya, didorong betul-betul. Dan kita semua mengawal, apalagi kita mendengar bahwa sudah ada tambahan bukti terkait dugaan kekerasan seksual tersebut,” ujar TGB yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI).
Pengunduran Diri Pimpinan Ponpes dan Pengakuan Korban
Pengambilalihan kepemimpinan pesantren ini merupakan buntut dari pengunduran diri Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Imanuddin Sumar alias AIS atau Abah dari jabatannya pada Rabu (23/9). Dugaan keterlibatan AIS dalam kasus kekerasan seksual terhadap sejumlah santri perempuan mencuat setelah para mantan santri dan korban memberanikan diri mengumpulkan bukti serta menyuarakan pengalaman pahit yang mereka alami.
Meskipun beberapa korban mengaku sempat mendapat intimidasi dan tekanan untuk bungkam, keberanian mereka membuka jalan bagi terungkapnya fakta-fakta baru.
Dalam memberikan klarifikasi kepada media, AIS membantah rekaman suara yang beredar sebagai bentuk pengakuan dosa. Ia menyebut interaksi tersebut sebagai langkah klarifikasi atau tabayyun bersama pihak-pihak terkait. Meski demikian, AIS menyatakan siap mengikuti seluruh proses hukum yang berjalan untuk membuktikan tuduhan tersebut secara objektif di mata hukum.
Kepolisian Prioritaskan Penuntasan Kasus
Merespons munculnya bukti-bukti baru dan desakan masyarakat, Polres Lombok Tengah memastikan bahwa penanganan kasus ini menjadi agenda prioritas utama. Penyelidikan awal yang telah dimulai sejak laporan pertama masuk pada Februari lalu kini terus diperdalam.
Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah, AKP Punguan Hutahaen, menegaskan kepolisian akan memberikan perlindungan penuh bagi para saksi dan korban.
“Penanganan perkara ini menjadi prioritas utama. Kami juga mengawal dan menjamin hak-hak para santri yang mungkin sebelumnya merasa takut untuk melapor,” tegas Punguan.
Keadilan dan Pemulihan Trauma Korban Jadi Fokus Utama
TGB Muhammad Zainul Majdi menekankan bahwa penegakan keadilan bagi para korban adalah hal yang tidak bisa ditawar. Sebagai seorang ayah yang memiliki lima anak perempuan, TGB mengaku sangat memahami betapa berharganya kehormatan dan martabat seorang anak.
“Saya tahu persis harga dari kehormatan adik-adik kita. Kita berharap semua korban segera mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya dan bisa segera pulih dari trauma,” tutur mantan Gubernur NTB tersebut.
TGB juga meminta masyarakat untuk bersikap bijak dengan memisahkan antara tindakan personal individu yang diduga melanggar hukum dan institusi pesantren itu sendiri. Menurutnya, proses hukum terhadap individu harus terus berjalan hingga tuntas, sementara keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan harus dipulihkan demi masa depan para santri.
“Pertanggungjawaban individu harus didorong secara tuntas. Terkait pondok pesantren, sosok yang bersangkutan sudah sepenuhnya tidak memiliki hubungan lagi. Insyaallah pesantren ini akan terus berjalan maju dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” pungkasnya.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post