Sinergi Fiskal-Moneter dan Meredanya Tensi Global Dorong Penguatan Tipis Rupiah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis pada perdagangan akhir pekan, Jumat. Sentimen positif yang menopang mata uang Garuda ini dipicu oleh makin eratnya koordinasi kebijakan antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia, serta menguatnya sinyal perbaikan stabilitas geopolitik di tingkat global.
Berdasarkan data pasar mata uang, rupiah ditutup pada level Rp17.903 per dolar AS, menguat 13 poin atau sekitar 0,07 persen dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya di level Rp17.916. Meski terbilang terbatas, pergerakan positif ini mencerminkan resiliensi pasar domestik di tengah ketidakpastian makroekonomi internasional.
Koordinasi Domestik dan Redanya Gelombang Geopolitik
Analis mata uang sekaligus Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada solidnya koordinasi fiskal dan moneter di dalam negeri. Sinergi intensif antara otoritas keuangan dan bank sentral dinilai menjadi benteng utama dalam meredam tekanan spekulatif serta menjaga stabilitas nilai tukar secara berkelanjutan.
Di sisi eksternal, iklim investasi global turut mendapat angin segar dari kabar terbukanya jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara dilaporkan tengah menjajaki kesepakatan bertahap yang berpotensi membuka kembali akses vital Selat Hormuz serta merelaksasi blokade ekonomi Washington atas Teheran.
“Diskusi antara AS dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz serta pencabutan sanksi ekonomi berhasil mengurangi kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik global,” ujar Ibrahim dalam analisis pasarnya.
Dukungan tambahan bagi mata uang kawasan berkembang juga datang dari perpanjangan gencatan senjata perdagangan antara AS dan Tiongkok hingga 10 Januari 2027. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi bahwa kedua raksasa ekonomi dunia tersebut telah sepakat memperpanjang masa berlaku perjanjian yang sedianya berakhir pada 10 November.
Laju Ekonomi AS Tahan Penguatan Lebih Lanjut
Kendati dinaungi sejumlah sentimen positif, ruang penguatan rupiah tetap terbatas akibat kokohnya data kinerja ekonomi Amerika Serikat. Rilis indikator ekonomi terbaru memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan menaikkan suku bunga acuan.
Data S&P Global mencatat Indeks Manufaktur Komposit AS (Composite PMI) melonjak tajam ke angka 58,4 pada September dari posisi 56,0 pada Agustus. Capaian ini menandai laju ekspansi tercepat dalam lebih dari lima tahun terakhir sekaligus mengindikasikan masih tingginya tekanan inflasi di AS.
Di saat yang sama, klaim awal tunjangan pengangguran mingguan di AS turun menjadi 197.000, lebih rendah dari ekspektasi konsensus pasar sebesar 201.000. Data ketenagakerjaan yang solid ini kian memperkuat posisi dolar AS di pasar global.
Posisi Mata Uang Asing Lainnya
Pada penutupan perdagangan sore hari, pergerakan rupiah terhadap sejumlah mata uang utama dunia tercatat bervariasi. Dolar Singapura diperdagangkan pada level Rp14.013, Yen Jepang berada di posisi Rp113,22, Dolar Australia dipatok pada Rp12.584, sementara Euro bertahan di level Rp20.400.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post