Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75% pada September 2026 menjadi momentum strategis bagi industri perbankan dalam memperkuat struktur keuangan. Menanggapi dinamika pasar modal dan transmisi suku bunga tersebut, PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS) memilih untuk memperketat disiplin pengelolaan margin melalui penyeimbangan biaya dana (cost of fund), biaya kredit, serta penyaluran pembiayaan yang terukur.
Langkah penyesuaian ini berpotensi membuka peluang ekspansi aset produktif secara signifikan. Data otoritas moneter mencatat kredit perbankan nasional mampu tumbuh 13,65% secara tahunan (YoY) per Agustus 2026. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan kredit modal kerja sebesar 11,45% serta lonjakan kredit investasi yang mencapai 25,11%. Guna menangkap peluang ekspansi tersebut tanpa mengorbankan tingkat profitabilitas, BWS memfokuskan kinerjanya pada tiga pilar utama: optimalisasi penetapan harga kredit (loan pricing), pengendalian biaya dana, dan efisiensi operasional secara menyeluruh.
Stabilitas Margin Bunga Bersih dan Efisiensi Beban Bunga
Kinerja portofolio BWS menunjukkan daya tahan yang cukup solid di tengah ketatnya likuiditas industri. Laporan keuangan publikasi emiten menunjukkan tingkat margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) BWS berada di posisi 3,3% pada Juni 2026, relatif stabil dan menguat tipis jika dibandingkan dengan capaian Juni 2025 yang sebesar 3,29%.
Pencapaian marjin tersebut ditopang oleh keberhasilan perseroan dalam menekan beban dana. Pada semester I-2026, BWS mencatatkan penurunan beban bunga yang signifikan menjadi Rp942,47 miliar, membaik dari posisi periode yang sama tahun sebelumnya yang menembus Rp1,11 triliun. Penurunan beban bunga ini menjadi bukti efektivitas manajemen dalam mengelola struktur pendanaan di tengah era suku bunga tinggi.
Rekomendasi Analis: Dorong CASA dan Efisiensi Operasional
Analis Sinarmas Sekuritas, Yosua Zisokhi, menilai stabilitas NIM yang ditunjukkan BWS merupakan modal fondasi yang sangat kuat untuk menjaga kinerja profitabilitas perseroan ke depan. Namun, guna mempertahankan tren positif tersebut, perseroan perlu mengambil langkah taktis untuk memperbesar porsi dana murah atau current account saving account (CASA).
“Langkah berikutnya adalah memperbesar kontribusi dana giro dan tabungan agar biaya pendanaan lebih terkendali. Di sisi kredit, BWS dapat memprioritaskan segmen dengan imbal hasil yang sepadan dengan risikonya. Jika diikuti efisiensi operasional, pertumbuhan bisnis berpeluang menghasilkan laba yang lebih kuat secara berkelanjutan,” ujar Yosua pada Senin (5/10/2026).
Lebih lanjut, Yosua menekankan pentingnya manajemen mengantisipasi jeda waktu (time lag) dari dampak kebijakan suku bunga terhadap neraca perbankan. Mengingat penyesuaian suku bunga simpanan dan kredit tidak berjalan secara serentak, konsistensi pengelolaan neraca (balance sheet management) menjadi krusial bagi BWS dalam beberapa kuartal mendatang.
“Bank perlu mencermati kapan biaya simpanan berubah dan kapan bunga kredit dapat disesuaikan. Pengelolaan waktu penyesuaian ini membantu BWS menjaga margin tetap stabil sambil memberi kepastian pembiayaan bagi nasabah,” pungkasnya.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post