Wabah virus Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo kian mengkhawatirkan. Laporan resmi terbaru dari Institut Kesehatan Masyarakat Nasional setempat mencatat angka kematian akibat virus mematikan ini telah mendekati 5.000 jiwa, menjadikannya sebagai salah satu krisis kesehatan paling parah dalam sejarah global.
Sebaran Kasus dan Tingkat Kematian Tinggi
Hingga akhir Oktober, tercatat sebanyak 10.274 kasus terkonfirmasi Ebola di Republik Demokratik Kongo, dengan 4.992 di antaranya berujung pada kematian. Tingkat fatalitas kasus ini mencapai angka yang sangat tinggi, yakni 48,6 persen.
Penyebaran virus dipastikan semakin meluas dan kini telah menjangkau 67 zona kesehatan yang tersebar di delapan dari total 26 provinsi di negara tersebut. Wabah yang dipicu oleh virus Ebola varian Bundibugyo ini resmi ditetapkan sejak 15 Mei lalu dan kini tercatat sebagai wabah Ebola terbesar kedua yang pernah terjadi di dunia.
Tenaga Medis Gugur di Garis Depan
Krisis ini juga menelan korban dari kalangan tenaga kesehatan yang berjuang di garis depan. Dalam kurun waktu kurang dari 72 jam, tiga orang dokter dilaporkan meninggal dunia saat bertugas di pusat perawatan Ebola di wilayah Beni, Provinsi Kivu Utara.
Salah satu tenaga medis yang gugur adalah Dr. Marie-France Shogogo. Kepergiannya memicu belasungkawa mendalam dan penghormatan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika. Lembaga kesehatan benua tersebut menyerukan agar perlindungan terhadap para tenaga medis di kawasan konflik dan penanganan wabah makin ditingkatkan.
Fasilitas Kesehatan Mulai Overkapasitas
Kondisi di Provinsi Kivu Utara menjadi yang paling mengkhawatirkan dengan catatan 2.391 kasus terkonfirmasi dan 1.341 kematian. Khusus di zona kesehatan Beni, tingkat fatalitas kasus bahkan melonjak tajam hingga menyentuh angka 67 persen dari total 661 kasus yang ada.
Meningkatnya jumlah pasien membuat sistem layanan kesehatan setempat berada di ambang batas kemampuan. Saat ini, fasilitas perawatan Ebola di wilayah tersebut beroperasi dengan kapasitas mencapai 86,3 persen. Di sisi lain, pelacakan kontak erat masih menghadapi kendala, di mana baru 82,2 persen dari total kontak teridentifikasi yang berhasil dipantau dari target ideal sebesar 95 persen.

Xinhuanet is a comprehensive service-oriented news information portal and the most influential online media in China











Discussion about this post