Manusia memiliki sejarah panjang dalam menuturkan kisah mistis, mulai dari tradisi kuno di Mesopotamia hingga berbagai karya sastra modern. Meskipun zaman telah berganti dan ilmu pengetahuan berkembang pesat, ketertarikan masyarakat terhadap fenomena hantu dan hal-hal gaib tetap bertahan kuat hingga saat ini. Para ahli sains dan psikologi kini membongkar berbagai alasan ilmiah di balik pengalaman misterius yang sering kali dianggap sebagai fenomena supranatural tersebut.
Pakar psikologi dari University of West Georgia, Prof. Christine Simmonds-Moore, menjelaskan bahwa pengalaman yang dianggap paranormal bersifat nyata secara subjektif bagi mereka yang meyakininya. Fenomena ini sering kali memberikan dampak emosional yang besar. Namun, keterlibatan emosional tersebut tidak serta-merta membuktikan adanya keberadaan makhluk halus, melainkan lebih pada reaksi kompleks yang terjadi di dalam otak manusia.
Kondisi Kesadaran yang Berubah dan Kelumpuhan Tidur
Salah satu penjelasan ilmiah utama terkait sensasi keberadaan makhluk gaib adalah kondisi hipnagogik, yaitu periode transisi antara keadaan tidur dan terjaga. Pada fase ini, kesadaran seseorang mengalami perubahan sehingga imajinasi internal dan persepsi terhadap lingkungan sekitar menjadi saling bercampur. Kondisi ini kerap memicu terjadinya kelumpuhan tidur (sleep paralysis).
Penelitian dari Sleep Medicine Reviews mencatat bahwa kelumpuhan tidur pernah dialami oleh sekitar 7,6 persen populasi umum. Pendiri Anomalistic Psychology Research Unit di Goldsmiths, University of London, Prof. Chris French, mengungkapkan bahwa kelumpuhan tidur terjadi ketika fisik seseorang telah terbangun, namun fungsi otak masih berada dalam fase tidur.
Kondisi tersebut kerap disertai halusinasi visual maupun sensori yang sangat nyata. Seseorang yang mengalami kelumpuhan tidur kerap merasakan kehadiran sosok asing di dekatnya atau merasa tertindih. Meski memberikan rasa takut yang luar biasa, para ahli menegaskan bahwa fenomena tersebut murni merupakan halusinasi biologis dan tidak nyata.
Sensivitas Otak, Pareidolia, dan Disosiasi
Faktor psikologis lain yang memicu pengalaman mistis adalah pareidolia, yakni kecenderungan otak manusia untuk memproses pola acak menjadi bentuk yang dikenal, seperti melihat bayangan samar menyerupai wajah di kegelapan. Prof. Rodney Schmaltz dari MacEwan University menegaskan bahwa sistem penglihatan manusia sangat rentan mengalami kekeliruan persepsi, terutama ketika seseorang berada dalam kondisi stres atau cemas.
Selain pareidolia, fenomena disosiasi juga memegang peranan penting. Disosiasi terjadi ketika pikiran seseorang terpisah sementara dari realitas di sekitarnya, biasanya akibat kelelahan mental atau tingkat stres yang tinggi. Dalam kondisi ini, aspek internal dari pikiran seseorang dapat terproyeksi keluar dan dipersepsikan secara keliru sebagai sosok atau keberadaan asing.
Para peneliti juga menemukan keterkaitan antara laporan fenomena mistis dengan sifat psikologis yang disebut transliminality. Individu dengan tingkat transliminality tinggi umumnya memiliki daya imajinasi yang sangat kuat, sangat kreatif, serta lebih peka terhadap dorongan sensorik seperti musik dan seni. Kelompok ini cenderung lebih mudah merasakan sensasi kehadiran sosok tak terlihat atau mengalami sinestesia—kondisi di mana stimulasi pada satu indra memicu persepsi pada indra lainnya.
Pengaruh Lingkungan dan Suara Infrasonik
Selain faktor internal diri manusia, kondisi lingkungan fisik turut memengaruhi timbulnya sensasi mistis. Ruangan dengan pencahayaan redup, sudut-sudut bangunan tua, serta struktur beratap tinggi secara alami dapat memicu rasa cemas dan tidak nyaman pada psikologis manusia.
Faktor fisik lain yang cukup signifikan adalah gelombang infrasonik, yaitu suara dengan frekuensi di bawah 20 Hertz yang tidak dapat terdengar oleh telinga manusia secara langsung. Suara infrasonik dapat dihasilkan oleh mesin pabrik, kendaraan lalu lintas, hingga sistem pemanas dan perpipaan pada bangunan tua.
Meski tidak terdengar, paparan gelombang infrasonik terbukti dapat memicu peningkatan hormon kortisol (hormon stres) dalam tubuh serta meningkatkan rasa gelisah. Rasa tidak nyaman yang timbul akibat faktor lingkungan ini sering kali menjadi pemicu awal bagi otak untuk menafsirkan keadaan sekitar secara mistis.
Evolusi Manusia dan Bias Kognitif
Secara evolusioner, pemikiran manusia pada dasarnya dirancang untuk bertahan hidup ketimbang mencari kebenaran mutlak. Peneliti cerita rakyat Deborah Hyde menjelaskan bahwa sistem kognitif manusia cenderung mengasumsikan skenario terburuk demi keselamatan diri. Di masa lampau, menganggap bayangan atau suara mencurigakan sebagai ancaman bahaya memberikan peluang bertahan hidup yang lebih tinggi bagi manusia purba.
Manusia juga memiliki bias kognitif yang dikenal sebagai agency detection, yaitu kecenderungan otomatis untuk menganggap bahwa setiap kejadian aneh disebabkan oleh makhluk berkesadaran yang memiliki maksud tertentu. Asumsi dasar ini kemudian berkembang menjadi kepercayaan terhadap keberadaan sosok tak terlihat.
Ditambah dengan bias konfirmasi (confirmation bias), seseorang yang sudah memercayai hal supranatural atau menginginkan adanya kehidupan setelah kematian cenderung akan mencari dan membenarkan setiap fenomena aneh sebagai bukti keberadaan hantu. Kepercayaan tersebut pada akhirnya memberikan rasa nyaman atau kepastian atas ketakutan manusia terhadap kematian.

BBC Indonesia (atau BBC News Indonesia) adalah layanan berita berbahasa Indonesia dari lembaga penyiaran publik Britania Raya, British Broadcasting Corporation (BBC)











Discussion about this post