Inovasi Sains Berbasis Dampak Sosial: Universitas Brawijaya Perkuat Sinergi Kampus dan Masyarakat
MALANG TODAY – Perguruan tinggi tidak boleh sekadar menjadi menara gading yang terisolasi dari realitas sosial. Komitmen inilah yang kembali ditegaskan oleh Universitas Brawijaya (UB) dalam mengoptimalkan peran riset dan sains agar berdampak langsung bagi masyarakat. Lewat pendekatan kolaboratif, UB terus mendorong hilirisasi hasil penelitian guna menjawab berbagai tantangan pembangunan lokal hingga nasional.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, menegaskan bahwa kompleksitas persoalan sosial saat ini tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi saja. Menurutnya, perguruan tinggi memikul tanggung jawab moral dan akademis untuk mengalirkan keilmuan menjadi solusi konkret di lapangan.
“Persoalan sosial memiliki karakter yang kompleks. Karena itu, perguruan tinggi perlu bekerja sama dengan pemerintah daerah, industri, serta komunitas agar solusi yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan riil masyarakat,” ujar Prof. Widodo saat berbicara dalam kegiatan Living Lab Summit bertajuk “Meretas Masa Depan: Arah Baru Sains dan Teknologi Berbasis Dampak Sosial” di Auditorium UB.
Dampak Nyata: Dari Kawasan Malang Raya Hingga Plosok Nusantara
Sebagai kampus legendaris di bumi Malang Raya, UB telah mengakar kuat dalam program pemberdayaan masyarakat. Melalui berbagai skema strategis—seperti program Desa Binaan, Dokter Mengabdi, Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga pengabdian masyarakat berkelanjutan—kehadiran pakar dan mahasiswa UB menjangkau berbagai wilayah di Kota Malang, Kabupaten Malang, hingga pelosok luar Jawa.
Prof. Widodo mencontohkan keberhasilan model kolaborasi yang diterapkan UB di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di wilayah tersebut, kampus menerjunkan tim untuk mengadaptasi sistem pertanian dan peternakan terintegrasi.
“Masyarakat didampingi untuk menanam jagung, sementara limbah atau bagian tanaman yang tidak dimanfaatkan sebagai hasil utama diolah menjadi pakan ternak berkualitas. Pendekatan ini memberikan manfaat berantai, mulai dari kemandirian pakan, peningkatan produktivitas ternak, hingga penguatan ekonomi warga,” terangnya.
Selain di NTT, keberlanjutan program pengabdian UB juga menyasar wilayah Papua melalui Program Patriot. Dalam program ini, para alumni UB diterjunkan langsung untuk mendampingi peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Pemberdayaan Kampung Lingkar Kampus dan Keseimbangan Riset
Tidak hanya fokus pada daerah terpencil, UB juga menaruh perhatian besar pada pengembangan kawasan lingkar kampus di Malang. Kehadiran komunitas Brawijaya yang berkolaborasi erat dengan warga sekitar diharapkan mampu menghidupkan potensi kampung, menciptakan kemandirian ekonomi lokal, serta membangun ekosistem pembelajaran yang inklusif.
“Hubungan antara kampus dan warga sekitar harus membentuk ekosistem yang saling mendukung. Keberadaan perguruan tinggi harus dirasakan manfaat langsungnya oleh masyarakat tetangga sebelum meluas ke tingkat nasional,” tambah Prof. Widodo.
Guna menopang keberlanjutan dampak tersebut, UB terus menjaga keseimbangan antara riset dasar (basic research) dan hilirisasi riset terapan. Menurut sang Rektor, riset dasar merupakan fondasi utama lahirnya lompatan teknologi di masa depan, sedangkan riset terapan menjadi instrumen mendesak agar inovasi dapat segera diserap oleh industri dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post