Upaya mengatasi krisis sampah sungai di Jawa Timur terus melahirkan berbagai inovasi terapan. Organisasi nirlaba lingkunganhidup Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) melalui tim MOZAIK memperkenalkan inovasi wadah khusus bernama ORBIN (Organic Bin). Inovasi ini dirancang untuk memutus rantai penggunaan kantong plastik sekali pakai dalam pengelolaan sampah dapur, yang kini mulai diadopsi oleh warga kawasan pesisir sungai hingga meluas ke wilayah agropolitan Kota Batu, Malang Raya.
Langkah preventif ini diambil setelah tim lapangan mencatat angka pencemaran yang mengkhawatirkan. Hingga Oktober 2026, evakuasi sampah di aliran Kali Tebu telah mencapai angka fantastis, yakni 133 ton sampah. Melalui intervensi wadah ORBIN, warga diajak mengubah pola pikir agar tidak lagi membungkus sisa makanan dengan kantong kresek sebelum dibuang ke fasilitas pengolahan atau sungai.
Solusi Praktis Reduksi Plastik Sekali Pakai dari Dapur
Waste Prevention Manager ECOTON, Tonis Afrianto, mengungkapkan bahwa kebiasaan masyarakat membungkus sisa bahan dapur dengan kantong plastik justru menciptakan masalah ganda bagi lingkungan. Kebiasaan buruk tersebut mencemari sampah organik yang seharunya bisa diolah, sekaligus menambah volume residu plastik yang sulit terurai.
“Sering kali kita melihat banyak orang menggunakan plastik sekali pakai untuk mengumpulkan sampah organik dari dapur. Akibatnya, pembuangan ini menjadi dua jenis, yaitu sampah organiknya dan pembungkus plastiknya yang kemudian menjadi residu atau sampah baru,” papar Tonis Afrianto pada Kamis (29/10/2026).
Wadah ORBIN sendiri didesain berkapasitas 4 hingga 5 kilogram, lengkap dengan penutup kedap udara dan pegangan kokoh. Bentuk fisik ini dirancang untuk memudahkan mobilitas warga saat membawa sampah dapur ke tempat pengomposan tanpa khawatir bocor atau menimbulkan bau menyengat. Hingga saat ini, sebanyak 300 unit ORBIN telah dibagikan dari target keseluruhan 750 unit wadah.
Mendapat Apresiasi Pemerintah dan Dukungan Komunitas Akar Rumput
Inisiatif ini mengular hingga ke tingkat birokrasi dan praktisi lingkungan. Kepala Bidang Kebersihan dan Pemberdayaan DLH Kota Surabaya, Wasis Sutikno, menegaskan bahwa penanganan sisa makanan dari sumbernya sangat krusial mengingat porsi sampah organik mendominasi total timbulan harian yang mencapai 1.800 ton per hari. Penggunaan ORBIN dinilai sejalan dengan target efisiensi dan pengurangan sampah sebesar 40 persen setiap tahun.
Di tingkat tapak, penerimaan warga menunjukkan sinyal positif. Fasilitator Kelurahan Simokerto, Mujiatiningsih (Bu Yuli), serta Ketua Bank Sampah Markisa Tanah Kali Kedinding, Siti Cholifah, mengonfirmasi bahwa kepraktisan ORBIN membuat warga antusias memilah sisa Dapur secara konsisten untuk disalurkan ke fasilitas pengomposan setempat maupun metode bata terawang.
Replikasi Inovasi ORBIN Menembus Wilayah Kota Batu
Keberhasilan skema pemilahan dari rumah tangga ini tidak hanya berhenti di kawasan pesisir sungai Surabaya. Model pengelolaan sampah berbasis wadah non-plastik ini telah melintasi batas daerah dan mulai direplikasi di wilayah Malang Raya, khususnya di Kota Batu.
Puluhan rumah tangga di Kota Batu kini mulai mengadopsi penggunaan ORBIN guna mendukung program RW Mandiri Sampah. Mengingat karakteristik Kota Batu sebagai daerah tujuan wisata nasional dan sentra pertanian, pengelolaan sampah organik terpadu menjadi krusial untuk menjaga kelestarian lingkungan hulu DAS Brantas. Sinergi antara aksi warga di hilir dan penerapan replikasi di wilayah dingin Kota Batu ini diharapkan mampu menekan potensi pencemaran sungai secara menyeluruh di Jawa Timur.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post