Panggung Paris Fashion Week kembali menghadirkan ledakan kreativitas tanpa batas yang memikat para penikmat mode dunia. Dari dominasi palet tanah liat khas lapangan tenis legendaris Roland-Garros hingga metamorfosis visual bernuansa liar di bawah kemegahan Palais du Louvre, panggung mode bergengsi ini mempertemukan dua spektrum estetika yang memukau: evolusi anggun busana sportswear mewah dan elegansi teatral yang provokatif.
Penghormatan Oker Roland-Garros dalam Sentuhan Modern Lacoste
Mengambil latar megah lapangan Philippe-Chatrier di Roland-Garros, Direktur Desain Kreatif Lacoste, Pelagia Kolotouros, membuktikan kepiawaiannya dalam meredefinisi DNA rumah mode berlogo buaya tersebut. Koleksi musim semi ini memadukan material teknis berkemampuan tinggi dengan potongan kontemporer serta sentuhan high-end tailoring yang mewah. Menariknya, pendekatan kali ini terasa lebih berani dengan menanggalkan elemen klasik seperti rok tenis berlipit dan tas ikonis Lenglen demi menyambut estetika baru yang lebih segar.
Koleksi ini berakar kuat pada dominasi palet warna oker (ochre)—warna jingga kecokelatan khas lapangan tanah liat Roland-Garros. Busana esensial seperti kaus polo L12.12 ditransformasikan layaknya lapisan kulit kedua berteknologi tinggi dengan zona ventilasi presisi. Gaun berkerah manis berbahan katun piqué dan sutra, jaket bomber satin, hingga mantel hujan berbahan nilon ripstop mengilap tampil memikat di atas runway. Sebagai kontras yang dinamis, aksen warna kuning bola tenis turut disuntikkan, bahkan hadir dalam wujud gaun berstruktur lingkaran jaring yang atraktif.
Puncak kejutan tersaji di babak penutup: rangkaian busana serba putih—mulai dari kemeja, rok, hingga gaun—diberi efek kusut artistik dan aksen wet-look berkilau, sebelum dihiasi cipratan debu oker seolah para model baru saja bertanding di atas lapangan tanah liat. Pendekatan ini menegaskan kembalinya jenama pada akar identitas fundamentalnya di tengah tren mode global.
Sentuhan Liar dan Spektrum Feral Menutup Trilogi Mugler
Sementara itu, Thierry Mugler menutup malam dengan pertunjukan teatrikal yang megah di Carrousel du Louvre. Direktur Kreatif Miguel Castro Freitas mempersembahkan babak pamungkas dari trilogi peragaan bertema “Glorified Clichés”. Setelah sebelumnya mengeksplorasi konsep femme fatale dan siluet berstruktur militeristik era 1940-an serta 1980-an, kali ini Freitas mengangkat narasi perempuan sebagai kekuatan alam liar yang tak tertandingi.
Di hadapan para tamu kehormatan barisan depan, suasana diubah menjadi belantara gelap bersuara tetesan air dan kicau burung. Koleksi yang meluncur di runway menjelma menjadi representasi fauna yang eksotis sekaligus berbahaya. Motif macan tutul dan zebra berpadu harmonis dengan gaun berstruktur jaring laba-laba yang sangat tipis, atasan bertekstur sisik reptil, kerah berhias bulu tegas, hingga hiasan kepala menyerupai tanduk yang tajam. Siluet ular bahkan meliuk anggun pada celana panjang, bralette, serta gaun strapless dengan potongan punggung yang provokatif.
Palet warna yang ditampilkan pun menyengat mata: semburat biru toska, oranye, dan merah muda tampil berpadu dengan aksen hijau lumut pada gaun transparan bertabur bunga. Menyeimbangkan nuansa buas tersebut, siluet klasik jaket kulit pas badan berpadu apik dengan setelan burgundy dan jubah hitam berstruktur bahu tegas. Peragaan ditutup spektakuler dengan gaun lavendel berekor hitam panjang yang bertransformasi gradasi menjadi hijau apel—sebuah pernyataan busana paripurna tentang dominasi dan keanggunan perempuan atas alam semesta.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post