JAKARTA — Tekanan terhadap mata uang garuda semakin tak terbendung. Pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, nilai tukar Rupiah kembali melorot hingga menyentuh level Rp 18.139 per Dolar Amerika Serikat (AS). Tren pelemahan yang kian mengkhawatirkan ini memicu alarm kewaspadaan dari kalangan ekonom dan pelaku usaha, yang memperingatkan potensi lonjakan biaya operasional industri, penurunan daya beli masyarakat, hingga ancaman tertundanya agenda investasi nasional.
Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, rupiah melemah 4 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp 18.139 per dolar AS dari penutupan hari sebelumnya. Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah sebelumnya ditutup di level Rp 18.116 per dolar AS. Mengikisnya nilai tukar ini dinilai bukan lagi sekadar dinamika angka di pasar uang, melainkan sudah memberikan efek domino langsung terhadap riil perekonomian nasional.
Dampak Domino: Biaya Impor Membengkak dan Risiko Pemangkasan Tenaga Kerja
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menegaskan bahwa depresiasi rupiah yang berkepanjangan memukul sektor manufaktur yang bergantung pada pasokan luar negeri. Mengingat sebagian besar industri dalam negeri masih mengandalkan bahan baku, mesin, dan energi impor, pembengkakan biaya produksi dalam denominasi rupiah menjadi hal yang tidak terelakkan.
“Biaya impor bahan baku dan barang modal, serta kewajiban pembayaran utang valuta asing, meningkat tajam dalam rupiah. Perusahaan yang tidak mampu meneruskan kenaikan biaya ini kepada konsumen berisiko memangkas volume produksi hingga melakukan efisiensi tenaga kerja,” ujar Syafruddin.
Ia menambahkan, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan jika inflasi barang impor (imported inflation) mulai merembet ke harga bahan pokok. Menurutnya, pemulihan kepercayaan investor tidak bisa hanya mengandalkan intervensi jangka pendek, melainkan membutuhkan kepastian regulasi, penegakan hukum yang kredibel, serta transparansi aturan pasar yang perlu dipercepat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Jeritan Sektor Industri: Kenaikan Biaya hingga 13 Persen
Kekhawatiran senada disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Erwin Aksa. Ia menguraikan bahwa pergeseran nilai tukar dari kisaran Rp 16.000 menjadi Rp 18.100 per dolar AS setara dengan lonjakan biaya beban impor sebesar 13,1 persen—dengan asumsi harga barang dalam dolar AS stabil.
“Bagi industri yang beroperasi dengan margin keuntungan tipis, kenaikan biaya tersebut sangat signifikan. Ini menghantam sektor tekstil, kimia, farmasi, elektronik, makanan dan minuman, serta manufaktur berbasis komponen impor,” jelas Erwin.
Meskipun dunia usaha sempat meredam tekanan melalui efisiensi internal, pemanfaatan stok cadangan, dan instrumen lindung nilai (hedging), kemampuan bertahan tersebut dipastikan ada batasnya. Jika depresiasi berlanjut, pelaku usaha terpaksa menaikkan harga jual di tingkat konsumen, yang berpotensi menekan daya beli dan memeperlambat laju konsumsi domestik. Selain itu, tingginya volatilitas membuat estimasi imbal hasil investasi sulit diproyeksikan, sehingga banyak perusahaan memilih menunda ekspansi.
Respon Bank Sentral dan Faktor Pemicu Tekanan Global-Domestik
Menanggapi guncangan di pasar valuta asing, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyatakan bahwa otoritas moneter terus bersiaga penuh di pasar untuk menstabilkan pergerakan nilai tukar.
“Kami tetap berada di pasar. Pelemahan rupiah sangat dipengaruhi oleh dinamika penawaran dan permintaan harian. Ini merupakan volatilitas pasar yang normal, namun kami terus mengkaji akar penyebabnya dan siap melakukan langkah-langkah mitigasi,” kata Destry di sela-sela sebuah forum investasi di Jakarta.
Di sisi lain, Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh perpaduan sentimen global dan domestik. Di ranah global, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi AS (US Treasury) dan penguatan indeks dolar AS (DXY) mendorong terjadinya pelarian modal (capital outflow) dari pasar berkembang menuju aset berisiko rendah (safe-haven assets).
Sedangkan dari dalam negeri, ketidakpastian dipengaruhi oleh permintaan valas korporasi untuk pembayaran kewajiban, sentimen reformasi pasar modal, hingga penyesuaian bobot indeks pasar global seperti MSCI. Rahma menekankan pentingnya sinergi yang makin erat antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia.
“Bank Indonesia diproyeksikan akan mengoptimalkan intervensi pasar spot, instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta sekuritas rupiah (SRBI) untuk menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah. Otoritas perlu mencermati setiap opsi kebijakan agar tidak memberikan beban tambahan bagi pemulihan sektor riil,” pungkas Rahma.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post