Milan Fashion Week kembali mengukuhkan posisinya sebagai kiblat mode dunia, bukan sekadar lewat deretan rumah mode legendaris, tetapi melalui perhelatan kolaboratif yang merayakan keberagaman estetika global. Musim ini, panggung mode Milan menjadi saksi bisu bersatunya talenta dari Tiongkok, Timur Tengah, Afrika Utara, hingga Brasil, yang membawa napas segar melalui perpaduan antara kriya tradisional dan visi masa depan yang berkelanjutan.
Keqiao Collective: Dialog Antarbudaya dan Inovasi Tekstil
Sorotan utama tertuju pada Keqiao Collective Runway Show yang kini memasuki edisi ketiga dalam kalender resmi Milan Fashion Week. Proyek ini menjadi manifestasi nyata dari kemitraan strategis antara Keqiao—distrik tekstil terkemuka di Tiongkok—dan Kamar Mode Nasional Italia. Koleksi musim semi-panas 2027 yang ditampilkan oleh desainer seperti Gu Yuandai, Liu Hongchao, Sancailiyi, dan Sayaanno, berhasil memukau audiens dengan eksplorasi mendalam atas material.
Gu Yuandai menonjolkan narasi tentang memori dan waktu, sementara Liu Hongchao bereksperimen dengan teknik rajut (knitwear) yang memadukan serat alami dengan material daur ulang. Di sisi lain, Sancailiyi membawa filosofi Timur yang tenang ke atas panggung, dan Sayaanno mengubah setiap busana menjadi narasi bisu yang mempertanyakan hubungan antara tubuh dan struktur pakaian.
Oriental Fashion Show: Pesona Jalur Sutra dalam Balutan Couture
Bertempat di Museum Sains dan Teknologi Nasional Leonardo da Vinci, Oriental Fashion Show menghadirkan keanggunan abadi dari tradisi Jalur Sutra. Pendiri acara ini, Hind Joudar, kembali membuktikan bahwa mode adalah bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan budaya.
Desainer Omani, Yoland, memukau publik dengan koleksi haute couture abaya yang terinspirasi dari kekayaan ornamen Dhofar. Sementara itu, label Rena asal Maroko menawarkan interpretasi modern atas kaftan tradisional yang dikerjakan dengan tangan oleh para maalem (pengrajin ahli). Tidak ketinggalan, desainer Turkmenistan Gowher Gouvernet memadukan teknik sulaman keshde yang rumit dengan potongan busana ala Paris yang presisi, menciptakan siluet yang sangat kontemporer.
Brazilian Sustainable Fashion: Masa Depan Mode yang Bertanggung Jawab
Brasil membawa semangat sustainable fashion ke Milan melalui proyek bertajuk ‘Craftsmanship and Culture: The New Luxury’. Fokus utama mereka adalah kesiapan menghadapi regulasi Uni Eropa mendatang, termasuk Digital Product Passport (DPP). Sepuluh jenama yang dipimpin oleh perempuan, seperti Alina Amaral, Lybethras, dan Natural Cotton Color, membuktikan bahwa kemewahan masa depan terletak pada transparansi rantai pasok dan penggunaan material yang ramah lingkungan.
Inisiatif yang didukung oleh Abit dan ApexBrasil ini menekankan bahwa mode Brasil bukan hanya tentang estetika tropis yang eksotis, tetapi juga tentang integrasi dimensi sosial dan lingkungan yang kuat dalam setiap helai kainnya.
B Iconic: Inkubator Talenta Muda dan Visi Interdisipliner
Menutup rangkaian perhelatan, B Iconic mengukuhkan perannya sebagai platform bisnis dan talent scouting yang dinamis. Melalui kolaborasi dengan institusi pendidikan mode ternama seperti Istituto Marangoni, IED, dan Accademia IUAD, ajang ini memberikan panggung bagi desainer masa depan untuk memamerkan karya mereka di hadapan para pembeli dan media internasional.
Penghargaan tertinggi, B Iconic Award, jatuh kepada Kimooncho atas interpretasi kontemporer terhadap kimono. Selain itu, apresiasi khusus diberikan kepada desainer Korea Sul Young Hee atas dedikasinya selama empat dekade dalam melestarikan warisan budaya melalui bahasa haute couture. Dengan memadukan elemen seni, instalasi, dan komitmen sosial seperti kampanye melawan kekerasan terhadap perempuan, B Iconic berhasil mendefinisikan ulang peran sebuah perhelatan mode di era modern yang penuh empati.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post