JAKARTA — Emiten penyedia infrastruktur dan logistik anak usaha Grup Barito Pacific, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), membukukan kinerja pendapatan yang solid pada semester I-2026. Perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 22,8% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 81,2 juta, ditopang oleh perluasan ekspansi pada segmen energi dan lonjakan signifikan di sektor logistik.
Kendati top line menunjukkan ekspansi yang kuat, profitabilitas perseroan mengalami tekanan akibat peningkatan beban operasional serta efek pembanding yang tinggi pada periode tahun sebelumnya. Laba bersih CDIA pada semester I-2026 tercatat sebesar US$ 17,3 juta, terkoreksi 74,5% yoy. Penurunan tajam ini dipicu oleh tidak adanya kenaikan pendapatan tidak berulang atau one-off gain yang sempat dicatatkan pada semester I-2025 sebesar US$ 46,2 juta.
Pertumbuhan Segmen Bisnis dan Tekanan Margin
Berdasarkan data kinerja keuangan, portofolio bisnis CDIA menunjukkan geliat positif di dua lini utamanya. Segmen energi masih menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang US$ 52,8 juta atau naik 7,5% yoy. Sementara itu, segmen logistik mencatatkan lompatan performa yang impresif sebesar 80,2% yoy menjadi US$ 27 juta.
Namun, akselerasi pendapatan tersebut tertahan oleh lonjakan pos biaya. Beban pendapatan perseroan tercatat membengkak 30,9% yoy, disusul kenaikan biaya operasional hingga 103,2% yoy. Kondisi ini menekan marjin margin kotor dan margin operasional CDIA masing-masing berada di level 23,9% dan 9,1% pada paruh pertama tahun ini.
Analis KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Adriyanti, menilai bahwa kendati profitabilitas jangka pendek menghadapi tantangan, fundamental pendapatan CDIA masih berada dalam rekam jejak yang terjaga. Prospek perseroan diprediksi makin solid seiring dengan bergulirnya mega proyek dari entitas induknya.
Katalis Positif Mega Proyek CA-EDC Chandra Asri
KB Valbury Sekuritas menyoroti rampungnya pembangunan kompleks Chlor Alkali (CA) dan Ethylene Dichloride (EDC) milik PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) akan menjadi motor penggerak utama (growth driver) bagi CDIA di masa depan. TPIA sendiri merupakan pemegang saham pengendali CDIA dengan porsi kepemilikan saham mencapai 60%.
Proyek strategis TPIA tersebut mencakup pabrik Chlor Alkali berkapasitas 400 KTA (kilo ton per annum) dan pabrik Ethylene Dichloride berkapasitas 500 KTA. Per Juli 2026, kemajuan fisik konstruksi proyek telah menembus 72% dan ditargetkan siap beroperasi secara komersial pada 2027.
Operasional kompleks CA-EDC dipastikan membutuhkan integrasi infrastruktur skala besar. TPIA akan memanfaatkan kapabilitas CDIA untuk memasok kebutuhan pasokan listrik, pengelolaan air, fasilitas pelabuhan, pergudangan, hingga layanan logistik terpadu.
Sinergi Ekosistem dan Integrasi Pihak Berelasi
Model bisnis terintegrasi yang dibangun CDIA bersama TPIA memberikan kepastian visibilitas pendapatan dalam jangka panjang. Selain mengandalkan ekosistem internal Barito Group, CDIA terus memperluas jangkauan pasar dengan menggandeng jajaran mitra strategis global dan nasional, antara lain Krakatau Steel, EGCO Group, Salim Group, POSCO, SCGJWD Logistics, dan Petrosea.
Hingga semester I-2026, kontribusi transaksi dengan pihak berelasi tercatat naik menjadi 22,3% dari total pendapatan CDIA, meningkat dibanding periode sama tahun lalu sebesar 20,3%. Kombinasi Krakatau Steel dan TPIA mendominasi integrasi ini dengan menyumbang 18,3% terhadap total pendapatan bersih perseroan.
Khusus pada segmen logistik, TPIA menyerap sekitar 60% dari total kapasitas armada pelayaran yang dioperasikan CDIA. Skema kontrak sewa kapal jangka panjang berbasis waktu (time charter agreement) yang diterapkan perseroan hingga akhir masa ekonomis kapal menjadi benteng pertahanan utama dalam menjaga stabilitas arus kas (cash flow) CDIA di tengah dinamika pasar.

Malang Today, lifestyle news and magazine platform that covers mix of Malang Society and Culture style with fresh and Update.











Discussion about this post